Kamis, 07 April 2022

3.3.a.10 Aksi Nyata - Pengelolaan Program yang Berdampak Pada Murid

Tujuan Pembelajaran Khusus:  

  1. CGP dapat menjalankan rancangan program/kegiatan  yang dibuat di tahapan koneksi antarmateri
  2. CGP membuat dokumentasi pelaksanaan program/kegiatan  dalam bentuk e-portfolio.
Artikel tersebut ditulis dengan gaya masing-masing CGP namun harus mengandung  keempat komponen dalam kerangka 4P (4F), yaitu:
  1. Peristiwa (Fact)
  2. Perasaan (Feeling)
  3. Pembelajaran (Finding)
  4. Penerapan ke Depan (Future)

"Lakukan yang terbaik di semua kesempatan yang kamu miliki"

A. Rancangan Aksi Nyata Modul 3.3

        Suatu gerakan literasi menjadi suatu hal yang wajib untuk dilakukan pada dunia pendidikan terkhusus di sekolah. Program tersebut akan mendorong murid kedepannya untuk masuk ke dunia atau di era globalisai sekarang ini yang penuh dengan makna serta menjadikan dunia dalam genggaman kita.
        Buku merupakan suatu tempat kita dapat melihat dunia walaupun tidak pernah kita datangi. Semakin banyak kita membaca semakin banyak pengetahuan yang kita dapat terutama membaca surah dalam Al Qur'an dan mengenal tulisan serta artinya. Hal inilah menjadikan acuan saya untuk meningkatkan minat baca, hafal, dan mengetahui arti dari setiap ayat dalam surah Al Qur'an walaupun itu disekolah negeri. Salah satu faktor dari kecanggihan teknologi mereka cenderung bermain game membuat budaya bacanya rendah dan semakin menurun untuk mengetahui isi dalam setiap ayat dalam Al Qur'an. Sekolah pada dasarnya untuk menimba ilmu bukan hanya pengetahuan umum, diharapkan sekolah negeri juga mendapatkan pengetahuan agama walaupun dasar saya bukan dari agama namun dapat bekerjasama dengan guru agama sebagai aset di sekolah dan masyarakat yang mengetahui banyak tentang pengetahuan tentang agama.
              Salah satu upaya untuk menanamkan dan membiasakan budaya positif di sekolah selain ma'patabe (permisi), perlunya adanya program dalam hal keagamaan yang berupa Literasi Al Qur'an (LiAQ) dalam hal ini baca, tulis, hafal dan mengenal arti dari setiap ayat dalam surah Al Qur'an. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan minat baca, hafal, tulis dan mengetahui arti dari setiap surah dalam Al Qur'an, mampu meningkatkan prestari murid dalam bidang IMTAK dengan memanfaatkan IPTEK sesuai dengan visi sekolah membentuk peserta didik yang berakhlak mulia. Program ini di implementasikan di UPT SD Negeri 18 Leppangeng. Sekolah yang memiliki aset/sumber daya/modal yang akan mendukung terlaksannya Program ini.




B.  ARTIKEL REFLEKSI
Program LiAQ ini sebagai bentuk  Literasi Al Qur'an dalam bidang keagamaan dengan membaca, menulis dan menghafal  1 ayat Al Qur'an bagi kelas tinggi dan menghafal 1 surah pada kelas rendah yang di ganti setiap hafalan yang sudah lancar. Kegiatan tersebut dipandu oleh guru kelas  masing-masing dibantu oleh guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada jam sebelum proses pembelajaran di mulai dengan menggunakan waktu sekitar 10-15 menit didepan kelas dan meja masing-masing peserta didik. Siswa yang tidak mendapat giliran dapat mengumpulkannya melalau grup WA kelas masing-masing.
adapun deskripsi Aksi Nyata Modul 3.3 ini mencakup peristiwa, perasaan, pembelajaran dan penerapan ke depan (4F) :

fact (Peristiwa) 
1. Latar Belakang Aksi Nyata

Program sekolah yang berdampak pada murid dapat mendukung terwujudnya merdeka belajar dan memfasilitasi pengembangan potensi murid agar tumbuh kembangnya maksimal sesuai kodrat alam dan kodrat jamannya, dimana dalam suatu visi guru penggerak mendukung dalam menciptakan perencanaan program yang berdampak pada murid. Pada saat menentukan suatu program yang akan dilaksanakan di sekolah yang berdampak pada murid maka dengan pendekan Inkuiri Apresiatif melalui langkah BAGJA, dimana tahapan BAGJA terdapat pendekatan yang kolaboratif dalam melakukan suatu perubahan yang berbasis Aset dengan membiasakan menggunakan nilai-nilai pendidikan karakter untuk mendukung terlaksananya program sekolah yang berdampak pada murid.

Program yang dibuat disesuaikan dengan minat belajar dan profil murid yang beragam, mengedepankan empati pada murid dan memahami kondisinya dimana dalam program yang berdampak pada murid seorang guru harus mampu menjadi coach yang memandirikan murid untuk mengatasi masalah yang dihadapi dalam program yang diterapkan oleh sekolah. Pada program yang berdampak pada murid itu guru dituntut mengambil suatu keputusan yang bijaksana dalam mengedepankan nilai-nilai kebajikan dalam menjalankan program tersebut, dalam program sekolah ini yang berdampak pada murid bisa dilakukan dengan memaksimalkan sumber daya yang ada di sekolah. Jadi berdasarkan apa yang telah dipaparkan dari materi-materi sebelumnya yang mempunyai suatu keterkaitan mengenai program yang berdampak pada murid untuk menumbuhkan minat baca, hafal, menulis dan memahami arti dalam setiap surah dalam Al Qur’an itu sangat rendah diminati oleh murid yang dimana ketergantungan bermain HP berdasarkan interview dengan guru PAI, yang kita ketahui bahwa sekolah adalah tempat menimba ilmu bukan hanya pengetahuan umum apalagi di sekolah negeri, diharapkan juga mendapatkan pengetahuan keagamaan, oleh karena itu sekolah ingin meningkatkan Literasi di sekolah khususnya di bidang keagamaan melalui program Literasi Al Quran atau saya memberikan singkatan yaitu LiAQ.

Pada program literasi Al Qur’an ini guru mendengarkan masukan dari perwakilan tiap kelas mengenai program LiAQ ini dan menyusun bersama murid rencana atau daftar rutinitas yang akan dilakukan di kelas mengenai LiAQ, dengan program ini guru memberikan kesempatan mengambil suatu keputusan yang dimana keputusan itu dapat di patuhi bersama sehingga program ini dapat berjalan secara terus menerus dan tidak berhenti ditengah jalan yaitu dengan menilai setiap minggu hasil dari program tersebut dan murid dapat melaporkannya secara langsung dalam suatu pertemuan setiap bulannya tentang perkembangan program tersebut di kelas masing-masing, dimana nantinya guru dapat merespon balik apa yang telah dipaparkan oleh ketua dari setiap kelas. Semua aset di sekolah sangat membantu dalam kelancaran program ini bukan hanya Guru mapel PAI namun guru kelas dan mapel yang lain dapat membantu demi terwujudnya program yang berdampak pada murid yang ada di sekolah.

2. Alasan melakukan aksi nyata

Hal yang menarik dalam aksi nyata ini yang saya laksanakan kali ini mengenai materi modul 3.3 yaitu murid mampu mengkondisikan dan mendisiplikan diri untuk membaca, menulis dan menghafal arti dari setiap ayat dalam surah Al Qur'an, murid berani menyampaikan hafalan didepan teman-temanya  dan mengirimkan hafalan dan artinya di melalui  WA grup kelas masing- masing bagi kelas tinggi serta murid kelas rendah menyampaikan hafalan dengan sangat antusias, kemudian dapat membuat bentuk tulisan ayat Al Qur'an yang rapi.

Dengan menggunakan pendekatan IA tahapan BAGJA kita dapat menemukan alasan yang sesuai mengapa progrm Literasi Al Qur'an di laksanakan di di UPT SDN 18 Leppangeng. Berikut adalah Deskripsi Tahapan BAGJA :

a. Buat Pertanyaan

Bagaimana meningkatkan minat baca, tulis dan hafal dan mengetahui arti setiap surah dalam Al Qur'an dan motivasi LiAQ di sekolah untuk peserta didik dalam program LiAQ?

Jawab : melalui kegiatan literasi 10 menit menghafal bagi kelas rendah setiap hari dan menghafal, menulis ayat dan arti setiap ayat dalam surah Al Qur'an bagi kelas tinggi serta mempresentasikannya di depan kelas, dua kali dalam seminggu 2-3 orang diawal jam pembelajaran dimulai dan yang belum mempunyai kesempatan maka setorannya melalui grup WA kelas masing-masing.

b. Ambil Pelajaran

Peserta didik yang mandiri dalam Literasi Al Qur'an untuk meningkatkan pemahaman tentang budaya baca, tulis, hafal dan mengenal arti setiap ayat Al Qur'an di sekolah,  guru kelas berpartisipasi dalam membantu guru agama dalam program Literasi AlQur'an.

c. Gali Mimpi

Murid yang mahir dalam baca, tulis,hafal dan mengetahui isi setiap ayat dalam Al Qur'an menjadi Hafidz walaupun sekolah kami bukan berlatar sekolah agama.


d. Jabarkan Rencana

Peserta didik memanfaatkan waktu 10 menit sebelum pembelajaran dimulai menghafal suarah pendek pada kelas rendah (I-III) dan guru membacakan arti dari surah tersebut diikuti oleh peserta didik sedangkan pada kelas tinggi (IV -VI) membaca dan menghafal 1 ayat Al Qur'an beserta artinya, kemudian dituliskan dan membacakannya di depan kelas untuk tampil di depan kelas dipilih 1- 3 orang bagi yang tidak tampil, peserta didik dalam program LiAQ mengirimkan tugasnya di WA Grup kelas sehingga temannya yang lain dapat melihat hasilnya. Program LiAQ untuk kelas rendah dilakukan setiap hari dan kelas tinggi dilakukan 2 kali dalam seminggu.

e. Atur Eksekusi 

Siapa yang bertanggung jawab dalam Program LiAQ ini sehingga dapat berlanjut secara terus menerus ?

- Kepala sebagai penanggung jawab program

- Guru Agama yang dibantu oleh guru kelas dan mapel sebagai pengarah kegiatan 

- Ketua Pelaksana adalah ketua  kelas

3. Hasil dari Aksi Nyata

Program Literasi Al Qur'an (LiAQ) sebagai bentuk dalam bidang keagamaan yang ada di sekolah yang tertuang dalam visi sekolah dimana dengan menghafal satu surah pendek setiap harinya untuk kelas rendah (I-III) yang dapat di ganti dengan surah pendek yang lain apabila surah sebelumnya sudah hafal  dengan lancar sedangkan untuk kelas tinggi (IV-VI) menghafal, menulis, membaca dan memahami arti dari setiap ayat Al Qur'an serta memprestasikannya di depan kelas yang terdiri 1-3 orang selebihnya dapat di setorkan lewat WA Grup kelas. Program ini dipandu oleh Guru kelas maupun guru PAI dan guru mapel yang lainnya yang mengajar pada jam pertama.

4. Dokumentasi Aksi Nyata


Feeling (Perasaan)
Murid makin bersemangat menyampaikan hasil hafalan bagi kelas rendah dan hafalan (ayat dan terjemahan), tulisan Al Qur'an bagi kelas tinggi dalam kegiatan Literasi Al Qur'an serta menambah hafalan sebagai wujud eksistensi mereka dalam melakukan suatu kebajikan, semua stakeholder yang ada di UPT SDN 18 Leppangeng termotivasi untuk meningkatkan kualitas bacaan Al Qur'an dan ingin mendalami ilmu tajwid disesama guru maupun di pengajian di lingkungan rumah masing-masing sebelum melaksanakan pendampingan LiAQ di murid masing-masing di kelas.
Kebahagian tersendiri bagi guru yang berhasil menambah ilmu bagi murid masing-masing dalam baca, hafal dan tulis Al Qur'an beserta terjemahan atau arti dan sangat membanggakan sebagai guru jika murid yang tidak bisa baca, hafal dan tulis Al Qur'an menjadi terampil baca, hafal dan tulis Al Qur'an. 😅

Finding (Pembelajaran)
Masih ada beberapa murid yang belum bisa menyetor hafalan, bacaan, tulisan dan menerjemahkan dengan tepat waktu sehingga menghambat untuk lanjut ke ayat untuk  kelas tinggi dan untuk kelas rendah masih ada beberapa yang sangat terlambat untuk menyetor hafalannya sehingga menghambat yang lainnya untuk lanjut ke suarah berikutnya. Bahkan ada pula yang bermasa bodoh dalam untuk tidak menghafal, ada juga beberapa murid yang tidak bisa membaca  Al Qur'an sama sekali. Keadaan tersebut dapat mengganggu keberlangsungan dan keberhasilan program kegiatan Literasi Al Qur'an pada awal pembelajaran.
Dalam hal ini perlunya bantuan orangtua di rumah untuk memantau dan membimbing anaknya dalam membaca Al Qur'an. Akan tetapi ada juga orang tua yang tidak mengetahui kondisi anaknya bahkan ada orangtua yang bermasa bodoh tentang membelajarkan anaknya tentang Al Qur'an mereka acuh tak acuh terhadap keterampilan anak dalam membaca Al Qur'an.

Future (Penerepan ke Depan)
Jika seorang murid sudah terbiasa tampil di depan teman-temannya nantinya akan menumbuhkan kepercayaan dirinya dan keyakinan diri pada anak. Mereka akan mampu menghadapi tantangan dan kondisi yang terjadi pada saat nantinya anak memimpin kedepannya. 
Memaksimalkan peran stakeholder di sekolah untuk menyukseskan program kegiatan Literasi Al Qur'an di awal jam pembelajaran. Program ini bukan hanya acara yang musiman tapi kegiatan ini akan dilaksanakan secara terus menerus dan berkelanjutan untuk menanamkan kepada anak guru tentang pentingnya budaya postif  yang relegius, mandiri, tanggung jawab, disiplin percaya diri dan kerjasama murid. 
Pada peningkatan keaktifan murid dalam program kegiatan Literasi Al Qur'an ini dalam membaca, menghafal, menulis dan menerjemahkan Al Qur'an dan peningkatan jumlah penghafal Al Qur'an.

C. Refleksi
  1. Diperlukan kolaborasi dengan orang tua murid terkait pentingnya terampil membaca Al Qur,an sejak dini dan meningkatkan hafalannya
  2. Melakukan coaching terhadap murid yang tidak mau membaca dan menghafal Al Qur'an
  3. Adanya apresiasi kepada murid yang menambah hafalannya.
D.  Evaluasi
  1. Melakukan Caoching kepada murid yangtidak menulis atau menghafal ayat / surah dalam Al Qur'an 
  2. Murid yang tidak bisa baca tulis Al Qur'an akan dibimbing oleh guru agama untuk belajar membaca Al Qur'an
  3. Mengarahkan orang tua agar anaknya mengaji di tempat mengaji di sekitar rumahnya
  4. Program ini mungkin dianggap oleh sebagian orang tidak memiliki makna tetapi bagi murid UPT SDN 18 Leppangeng akan memberikan pengalaman berharga dalam menumbuhkan karakter relegius pada murid. Program yang akan berdampak pada murid, program yang akan meningkatkan kompetensi sehingga siap berkompetensi dalam bidang keagamaan nantinya.
#SalamBahagia
#CGPAngkatan3
#UPTSDN18Leppangeng
#Kab.Pangkep
#SulSel
#YouTubeBiGSmall



3.1.a10. Aksi Nyata Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

3.1.a10. Aksi Nyata
Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran


Tujuan Pembelajaran Khusus : CGP dapat mempraktikkan proses pengambilan keputusan, paradigma, prinsip, dan pengujian keputusan di sekolah CGP.

Aksi Nyata: Praktik menjadi pengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran

Pada tahapan akhir dari siklus pembelajaran MERRDEKA, Bapak/Ibu CGP akan mendapat kesempatan untuk menjalankan rancangan yang sudah dibuat pada tahap demonstrasi kontekstual. Anda memiliki durasi empat (4) minggu untuk menjalankan rancangan tersebut. Selama menjalankan Aksi Nyata, dokumentasikan proses yang terjadi, terutama pada tahapan-tahapan yang Anda anggap penting. Dokumentasi dapat berupa foto atau video.

Semua dokumentasi yang terkait dengan pelaksanaan aksi nyata Anda akan menjadi bagian dari portofolio Paket Modul 3, yang akan Anda kumpulkan di akhir pelaksanaan Paket Modul 3.

Sebagai informasi, untuk portfolio yang akan Anda buat nanti, Anda akan diminta membuat sebuah artikel yang ditulis dengan gaya masing-masing CGP namun harus mengandung keempat komponen dalam kerangka 4P (4F), yaitu:


Pelaksanaan Vaksin Bagi Anak Usia 6-11 Tahun

A. Facts (Peristiwa)

Latar belakang tentang situasi yang dihadapi

Musibah yang telah terjadi di seluruh dunia terutama di Indonesia dengan adanya wabah virus Covid 19 dan beberapa virus varian baru. Dengan keadaan seperti itu membuat negara Indonesia ada dalam pandemic yang berkepanjangan. Namun pemerintah Indonesia tidak berdiam diri dan menyerah begitu serta mencari solusi agar semua warga negara Indonesia tidak rentang terkena  virus dan adanya suatu usaha yang dapat menyelamatkan bangsa dari keterpurukan wabah. Usaha yang dilakukan diantaranya dengan lockdown, penerapan protokol kesehatan dengan 5M (Mencuci tangan, Memakai masker, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas). Upaya pencegahan wabah tersebut guna menekan angka penyebaran virus pada warga Indonesia, walaupun menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Namun pemerintah mencetuskan bahwa semua masyarakat harus di vaksin agar tidak rentang terkena visus yang dimulai pada 17 tahun keatas kemudian 12 tahun keatas. Terkait permasalahan pelaksanaan vaksin, hal itu banyak menimbulkan polemic besar dengan berbagai pernyataan negatif sehingga berdampak pada pemikiran masyarakat. Pada akhirnya pelaksanaan kurang berjalan dengan baik dapat dikatakan kurang mencapai target yang diinginkan.

Hal itu terjadi juga dikalangan peserta didik di sekolah dasar, sesuai adanya surat dari kementrian kesehatan HK.01.07/MENKES/6688/2021 tentang pelaksanaan vaksinasi Covid 19 bagi anak usia 6 sampai 11 tahun. Program yang di luncurkan oleh pemerintah amatlah baik sebagai bentuk ikhtiar dan kerjasama dengan pihak sekolah untuk mensosialisasikan kepada orangtua peserta didik dan peserta didik untuk mengikuti vaksin tersebut. Upaya sosialisasi dan bentuk pendekatan seperti yang diinginkan pemerintah sudah dilaksanakan  dan mengharapkan semua peserta didik dapat melaksanakannya. Namun kekuatan kami di sekolah  tidak sama dengan masyarakat, kami pihak sekolah  tidak  bisa berbuat banyak sepertinya pihak sekolah mengalami dilema etika karena mengalami pro kontra diantara orangtua peserta didik. Ada sebagian orangtua peserta didik yang menolak anaknya untuk di vaksin dengan berbagai  pertimbangan yang mereka yakini sendiri.

Hal itu bagi sekolah merupakan dilema yang cukup besar, karena bentuk vaksinasi untuk anak umur 6 -11  tahun adalah bentuk anjuran dari  pemerintah sebagai upaya pencegahan virus covid -19 namun harus berbenturan dengan orangtua peserta didik yang melarang anaknya untuk di vaksin. Artinya disini menimbulkan pernyataan sama-sama benar, yang pertama sekolah benar harus  menjalankan vaksinasi umur 6-11 tahun sebagai upaya pencegahan covid19 serta pernyataan benar  yang kedua sekolah benar harus menjadi partner yang baik untuk orangtua peserta didik untuk selalu bijak dan solid dengan apa yang menjadi pertimbangan  orangtua peserta didik untuk kebaikan anak-anaknya.

Dengan keadaan seperti itu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut namun harus diselesaikan dengan baik, agar tidak menimbulkan masalah yang lainnya dan program-program sekolah yang lainnya tidak terbengkalai. Itu artinya kita sekolah memerlukan pengambilan keputusan yang bijak dan tepat agar tujuan yang diharapkan bisa tercapai.

Data tersebut didukung dari hasil sosialisasi dengan orangtua peserta didik. Hal tersebut berpengaruh terhadap tingkat  vaksinasi di  sekolah yang masih rendah dimana ada sebagaian dari orangtua yang anaknya tidak mau anaknya di vaksin.

Kondisi tersebut sangat mempengaruhi proses pembelajaran dan penerimaan PIP bagi peserta didik. Setelah melakukan sosialisasi kami stakeholder di sekolah sering melakukan komunikasi tentang peserta didik yang orangtuanya melarang anaknya untuk divaksin baik itu secara  resmi (KKG Mini) atau tidak resmi (santai).

Disni Bukan hanya guru penggerak yang ada di sekolah saja yang bergerak untuk pengambilan keputusan. Guru penggerak harus menyebarluaskan pengetahuan, pengalaman dan praktik baik yang diperoleh selama pendidikan guru penggerak kepada seluruh warga sekolah. guru penggerak akan memberikan perubahan terhadap sekolah dan komunitas yang ada di sekolah. Salah satu bentuk pengimbasan yang dilakukan guru penggerak adalah melakukan aksi nyata yaitu aksi nyata modul 3.1 pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah salah satu peran yang harus dilakukan guru dan seluruh stakeholder yang ada di  sekolah. Pengambilan keputusan yang tepat yang mampu mengakomodir seluruh kepentingan warga sekolah khususnya peserta didik. Keputusan yang tepat diperoleh dengan melakukan langkah-langkah pengujian dan pengambilan keputusan. 

Agar selaras harus dilakukan sosialisasi dan praktik pengambilan keputusan kepada guru-guru dan peserta didik di SDN 18 Leppangeng.   Guru dapat melahirkan Peserta didik yang merdeka dari proses pengambilan keputusan yang tepat dari seorang guru. Pengambilan keputusan keputusan yang diawali dengan memetakan aset/sumber daya yang dimiliki menggunakan pendekatan inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA.


Kegiatan aksi nyata ini meliputi lima kegiatan yaitu : 

Kegiatan aksi nyata meliputi 5 hal berikut ini:

  1. Sosialisasi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran di komunitas KKG Kecamatan Bungoro
  2. Sosialisasi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran kepada pemangku kepentingan dan stakeholder sekolah dan komunitas praktisi serta seluruh warga sekolah
  3. Melakukan pendekatan ke orangtua peserta didik yang anaknya tidak diizinkan vaksin (coaching)
  4. Menampung alasan orangtua mengapa anaknya tidak divaksin
  5. Komunikasi dengan pihak medis
  6. Refleksi hasil pengambilan keputusan yang dialami pemangku kepentingan dan guru, kegiatan ini dilakukan oleh Calon Guru Penggerak.

Deskripsi Aksi nyata

Aksi nyata penerapan modul 3.1. pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang dilakukan Calon Guru Penggerak di SDN 18  Leppangeng dimulai dengan mensosialisasikan perbedaan dilema etika dan bujukan moral serta Sembilan langkah pengujian dan pengambilan keputusan. Sosialisasi dilakukan beberapa waktu yang berbeda. 

Pertama sosialisasi dilakukan di komunitas KKG Kec.bungoro kemudian lanjut  kepada kepala sekolah yang dihadiri oleh komunitas praktisi. Di lain waktu sosialisasi di lakukan kepada seluruh warga sekolah tak terkecuali peserta didik yang dikumpulkan di lapangan sekolah. 

Alhamdulillah kepala sekolah, komunitas praktisi, dan peserta didik menjadi paham perbedaan antara dilema etika dan bujukan moral. 

Mereka pun memahami bagaimana mengambil keputusan dengan mengaplikasikan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Mereka paham bagaimana mengambil keputusan yang meminimalisir kesalahan dan resiko akibat keputusan yang tidak tepat. Dan  mereka paham cara mengambil keputusan dengan tepat. Mereka pun diberi pemahaman terkait 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan selain dari 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Setelah melakukan ke lima kegiatan tersebut maka sekolah dapat mengambil keputusan yang bijak bagi pelaksana program pemerintah vaksinasi covid. Hal ini dilakukan dengan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan.

a.     Paradigma dilema etika

Individu lawan masyarakat, artinya sekolah lawan orangtua peserta didik sebagai aset di sekolah. ada juga paradima jangka pendek lawan jangka panjang. Dari pihak sekolah memikirkan jangka pendek bisa saja memaksa orangtua peserta didik agar anaknya di vaksin. Namun jika jangka panjang  terjadi yang tidak diinginkan akibat dari pemaksaan sekolah untuk anaknya divaksin apakah sekolah akan bertanggungjawab kedepannya.

b.    Prinsip pengambilan keputusan

Prinsip yang diambil yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) sekolah memikirkan hasil yang akan diraih setelah adanya keputusan yang dikeluarkan, agar bisa menenangkan aset sekolah dan tidak menimbulkan masalah lain yang tidak diharapkan.

c.     Langkah pengujian pengambilan keputusan

     Mengenali nilai-nilai yang bertentangan : 

    Adanya penolakan orangtua peserta didik untuk anaknya di vaksin

Menentuakan siapa yang terlibat dalam situasi ini : 

    Kepala sekolah, guru, peserta didik, orangtua peserta didik dan tenaga medis

Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

   Mengadakan sosialisasi kepada orangtua peserta didik, mengkormasi pada orang tua peserta didik kebenaran tidak bersedia divaksin bagi anaknya

Pengujian benar salah

   Uji legal        : Tidak ada hukum yang ditentan

   Uji regulasi   : adanya pelanggaran untuk tidak mengikuti program dari Kemenkes RI

   Uji intusi      : Memperdebatkan dilema yang sama-sama bena

   Uji publikasi : Akan menimbulkan masalah jika di ketahui oleh masyarakat luar

   Uji panutan/idola     : Akan mengambil langkah keputusan dan keputusan   yang bijak serta pebuh pertimbangan dari berbagai segi untuk kebaikan bersama ke depannya
Pengujian Paradigma benar lawan salah

Individu lawan masyarakat dan jangka pendek lawan jangka panjang

Melakukan prinsip resolusi

Rule -  Based Thinking atau berpikir berbasis peraturan

Prinsip dari Kasus Siswa yang tidak melakukan vaksinasi karena tidak adanya persetujuan dari salah satu orang tuanya. Prinsip ini telah sesuai dengan pertimbangan bahwa setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang mengikutinya, dan oleh sebab itu  setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid

Investigasi opsi trilema

Melakukan pendekatan ke orangtua peserta didik yang anaknya tidak diizinkan vaksin, membuat suatu perjanjian kepada orangtua peserta didik bahwa jika dikemudian hari ada peraturan bagi anak yang tidak vaksinasi maka tidak diperbolehkan belajar di sekolah, melainkan kembali belajar di rumah secara online.

Serta apabila ada bantuan dana PIP yang mengharuskan vaksin dikemudian hari bagi peserta didik maka tidak di perbolehkan menerima dana PIP sebelum anak mereka vaksin.

Buat keputusan

Keputusan yang diambil oleh sekolah tetap melaksanakan vaksin peserta didik usia 6-11 tahun dan bagi yang tidak bersedia dan bersedia  akan di bagikan membuat surat pernyataan hal tersebut bertujuan untuk kekuatan/referensi bagi sekolah jika ada yang menanyakan tentang proses vaksin yang tak sesuai target100%

Lihat lagi keputusan dan refleksikan

v    Keputusan yang diambil sudah tepat karena pihak sekolah ada kekhawatiran jika tetap melakukan peraturan vaksinasi tersebut akan terjadi masalah yang bisa berakibat fatal.

v    Meskipun Vaksinasi adalah salah satu program pemerintah yang harus ditaati, namun dalam hal ini tidak boleh ada unsur pemaksaan karena kondisi atau keadaan anak berbeda-beda.


Alasan mengapa melakukan aksi tersebut

Perubahan tidak akan berjalan maksimal jika dilakukan hanya oleh CGP saja. Perlu adanya keterlibatan dari berbagai pihak khusus pemimpin/kepala sekolah dan seluruh warga sekolah. dilema etika merupakan dua kebenaran yang datang secara bersamaan dan perlu ada satu pilihan tepat dari kedua kebenaran tersebut. 

Dengan sosialisasi terhadap kepala sekolah, komunitas praktisi dan para peserta didik akan memberikan pencerahan dalam pengambilan keputusan permasalahan dilema etika yang dihadapi warga sekolah. 

Dengan menyikapi permasalahan tersebut maka sekolah perlu mengambil suatu tindakan yang sangat bijak dengan mempertimbangkan dari berbagai segi dan dikhawatirkan akan membawa pengaruh bagi orangtua yang lainnya yang telah menyatakan anaknya untuk  divaksin.


Hasil Aksi Nyata yang dilakukan

Pada komunitas KKG Kec.Bungoro serta warga sekolah meliputi kepala sekolah, guru dan peserta didik jadi tahu tentang apa itu dilema etika, bujukan moral, dan 9 langkah dalam pengambilan keputusan. Mereka pun lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Bahkan keputusan yang telah dibuat direfleksi kembali untuk meyakinkan apakah keputusan tersebut sudah dapat mewakili kepentingan orang lain dan tepat. Apakah keputusan yang diambil tidak menimbulkan polemik susulan. Ataukah jika tidak tepat segala kemungkinan yang muncul akan dapat di minimalisir.

Berdasarkan hasil keputusan yang diambil maka sekolah kami melaksanakan vaksinasi usia 6-11 tahun sesuai edaran kementrian RI. Hal tersebut salah satu bentuk keputusan yang dan mempertimbangkan pentingnya vaksin, diantaranya : mengurangi tingkat penyebaran virus corona, anak dapat beraktivitas di ruang terbuka dengan aman.

Berikut ini ada beberapa dokumentasi aksi nyata Modul 3.1 Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang di lakukan di Komunitas KKG Kec.Bungoro dan di SDN 18 Leppangeng:





Gambar 3. Tanya jawab dengan Orangtua Peserta didik


Gambar 4. Refleksi dengan Warga sekolah


B.  Feelings (Perasaan)

Perasaan saya setelah melakukan aksi nyata rasa keraguan sering muncul yang campur aduk antara bingung, galau dan takut. Apakah praktik baik yang akan dilakukan yaitu sosialisasi pengetahuan dan pengalaman terkait konsep pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran akan diterima dan dipahami oleh seluruh komunitas KKG se Kec.Bungoro, warga sekolah, dan apakah peserta didik mampu menerapkan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan jika terjadi sebuah kasus serta apakah guru dapat menerapkan 9 langkah tersebut terkait kasus vaksin. Seiring dengan proses yang dilakukan keraguan tersebut terbantahkan. Seluruh warga sekolah menerima dengan tangan terbuka terhadap perubahan yang dilakukan dalam pengambilan keputusan.Walaupun konsep pengambilan dan pengujian keputusan termasuk konsep baru Alhamdulillah proses sosialisasi kepada seluruh komunitas KKG Kec.Bungoro, warga sekolah berjalan sesuai dengan harapan dan guru pun mampu menerapkan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan terhadap kasus vaksin yang terjadi di sekolah.  


C.  Findings (Pembelajaran)

Dari pelaksanaan aksi nyata yang dilakukan di Komunitas KKG dan SDN 18 Leppangeng banyak sekali pembelajaran yang dapat kita ambil. Dalam menanggapi suatu kasus perlu adanya pertimbangan dari berbagai pihak dan mampu berkolaborasi dengan yang lainnya di sekolah untuk menghasilkan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan dan mengandung nilai manfaat. Sehingga suatu kasus dapat dijadika refleksi dalam menyikapinya.

Praktik baik penerapan konsep pengambilan keputusan dilakukan kepada beberapa guru yang orangtuanya tidak menginginkan anaknya di vaksin. Tidak menutup kemungkinan guru kebingungan dan bahkan tidak secara maksimal mampu mempraktikkan 9 langkah pengambilan keputusan dalam menyelesaikan kasus dilema etika (vaksin). Pengambilan keputusan bisa jadi tidak berjalan seutuhnya apalagi pengambilan keputusan tersebut berbenturan dengan kebijakan yang telah dibuat dan disepakati bersama oleh pemangku kebijakan dalam satu institusi (Sekolah).

Suatu praktik baik yang dilakukan dengan niat tulus dan sejalan dengan peningkatan kualitas seluruh elemen institusi akan memberikan kemanfaatan dan keberhasilan terhadap institusi tersebut. Begitu pun dengan praktik baik yang dilakukan CGP di SDN 18 Leppangeng memberikan beberapa keberhasilan di antaranya sebagai berikut:

  •   Pengetahuan dan pengalaman dalam pengambilan keputusan seluruh komunitas KKG yang ada di kecamatan Bungoro dan warga sekolah makin bertambah dan meningkat.
  •    Kepala sekolah, guru, peserta didik dan warga sekolah lainnya bergerak bersinergis menerapkan proses pengambilan keputusan baik di kegiatan sekolah ataupun di kelas .
  •     Terjadi perubahan paradigma warga sekolah dalam pengambilan keputusan yang tadi selalu bergerak cepat sekarang ada proses dengan pertimbangan dan menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan.  

D. Future (Penerapan ke depan)

Setelah melaksanakan aksi nyata banyak hal yang saya dapatkan sesuai dengan materi pada modul 3.1 pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Saya akan menerapkan prinsip berfikir dalam pengambilan keputusan dengan mengacu melalui tahapan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Dimana dalam pengambilan suatu keputusan perlu memperhatikan berbagai aspek sebelum memutuskan suatu keputusan yang tepat. Keputusan yang diambil adalah keputusan yang bertujuan untuk kepentingan murid serta dipertanggungjawabkan pada nilai-nilai kebajikan universal. Memaksimalkan peran komunitas praktisi dalam membentuk dan menerapkan konsep pengambilan keputusan sebagai agen perubahan yang akan memberikan layanan terhadap kesulitan yang terjadi pada proses pengambilan keputusan yang dilakukan.
Melibatkan warga sekolah untuk melakukan umpan balik dari setiap pengambilan keputusan yang dibuat dan memberikan keleluasaan untuk memberikan masukan demi ketepatan keputusan dan melakukan refleksi.











Minggu, 27 Februari 2022

3.2.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 20

 3.2.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 20

Model 1 : 4F (Fact, Feelings, Findings, Future)

4F merupakan model  refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahka menjadi 4P

  1. Fact (Peristiwa) 
  2. Feelings (Perasaan)
  3. Findings (Pembelajaran)
  4. Future (Penerapan)

Diary





Senin, 21 Februari 2022

3.1.a.10.3. Jurnal Refleksi - Minggu 19

Jurnal Refleksi Minggu ke 19 ini saya menggunakan Model 5 : 4C ( Connection, Challenge, Concept, Change)

Tahapan dari Model 5 ini yaitu :

  1. Coonection : Keterkaitan materi yang didapat dengan peran kita sebagai Calon Guru Penggerak
  2. Challenge : Ide, materi atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang kita jalanani selama ini
  3. Concept : Menceritakan konsep utama yang dipelajari dan menurut kita penting untuk terus dibawa selama menjadi CGP atau bahkan setelah menjadi GP
  4. Change : Perubahan yangterjadi dalam diri kita yang ingin di lakukan setelah mendapatkan materi 

Sabtu, 19 Februari 2022

3.1.a.10.2. Jurnal Refleksi - Minggu 18

Jurnal Refleksi Minggu 18 ini saya menggunakan Model 7 : Segitiga Refleksi

Tahapan dari Segitiga Refleksi ini di mulai :

  1. Kemampuan kita setelah mempelajari materi 
  2. Pemahaman tentang materi yang sudah di pelajari
  3. Target berikutnya setelah mempelajari materi
  4. Perasaan setelah melakukan pembelajaran





https://online.fliphtml5.com/fypij/tsjl/ 


Jumat, 18 Februari 2022

3.1.a.9. Koneksi Antar materi Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

3.1.a.9. Blog Rangkuman Koneksi Antar Materi

Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Filosofi Pratap Triloka yang digagas oleh Ki Hajar Dewatara yang kemudian dikembangkan menjadi tiga prinsip kepemimpian KHD yaitu Ing ngarsa Sung Taladha (didepan memberi telada), Ing Madya Mangun Karsa ( di tengah membangun kehendak atau niat), dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberikan dorongan dan arahan). Berdasarkan semboyan tersebut sudah sepatutnya kita menerapkan pengambilan keputusan yang berpihak pada murid, dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan. Disadari atau tidak ke tiga prinsip tersebut berpengaruh kepada pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
 
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Seorang pemimpin harus memiliki nilai-nilai moral seperti kebenaran, keadilan, sopan santun, toleransi, kasih  sayang dan lain-lain. Nilai tersebut harus di yakini dan di pegang teguh dalam diri kita sehingga dapat dijadikan basis pengambilan suatu keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, disadari atapun tidak nilai-nilai inilah yang mendasari suatu pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang dimana mengandung suatu dilema etika.
Guru sebagai pemimpin pembelajaran tentu pernah mengalami suatu dilema etika atau bujukan moral pada sebuah keputusan yang diambil saat menangani kasus murid  atau rekan sejawat di sekolah. Terlepas dari ketiga prinsip kepemimpinan menurut KHD ada prinsip-prinsip yang lain, namun ketiga prinsip di sini adalah yang paling sering dikenali kita digunakan sebagai seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil sebuah keputusan. ketiga prinsip ini yang sering kali membantu dalam menghadapi pilihan- pilihan yang penuh tantangan, yang harus kita hadapi sebagai pemimpin pembelajaran. Ketiga prinsip tersebut adalah:
  • Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  • Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  • Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.


Dalam aspek pembelajaran dikelas guru sebagai pembawa agen perubahan harus bisa mengetahui kebutuhan belajar peserta didik sekaligus sebagai pemberi contoh yang baik bagi peserta didik memahami karakter belajar peserta didik serta kondisi sosial emosional sebagai pemimpin pembelajaran dikelas. Dalam hal ini juga untuk terciptanya profil pelajar Pancasila peserta didik harus bisa menyelesaiakan sendiri persoalan belajarnya di kelas yang merupakan dilema bagi mereka, dan di sinilah penting pendekatan Coaching, dimana guru sebagai coach memberi pertanyaan yang akan dijawab oleh peserta didik untuk menyelesaikan sendiri setiap persoalan yang dialaminya terutama yang merupakan dilema baginya. Guru sebagai pemimpin pembelajaran selalu bersedia meluangkan waktu jika peserta didik membutuhkan, atau jika melihat ada perubahan belajar yang menurun pada peserta didik. Coaching tidak terlepas dari komunikasi yang baik antara coach dan coachee, Harapan coaching dapat mengatasai masalah belajar siswa. Diharapkan proses pengambilan keputusan dalam coaching dapat dilakukan dengan kesadaran penuh (mindfull), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada. 

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional akan berpengaruh terhadap suatu pengambilan keputusan dimana guru harus melakukan pembelajaran yang berisi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan anak untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya.Sebagai pemimpin pembelajaran ketika mengambil keputusan harus dilakukan dengan kesadaran penuh (minful) dengan berbagai pilihan dan konskuensi yang ada, karena permasalahan muncul tidak melihat bagaimana kondisi emosional kita,untuk mengambil suatu keputusan yang bertanggung jawab diperlukan kompetensi kesadaran diri (Self awareness), pengelolaan diri (Self management), kesadaran sosial (social awareness), dan keterampilan hubungan social (relationship skills).

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Ketika Guru berhadapan dengan kasus-kasus yang fokus pada masalah moral atau etika, maka nilai-nilai diri yang dianut dan yang paling dihargai oleh seorang pendidik akan sangat mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan. Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid , tentunya akan sangat mempengaruhi paradigma dan prinsip pengambilan keputusan seorang Guru Penggerak dan langkah - langkah yang akan diambil. Nilai-nilai yang yang akan kita ambil merupakan nilai-nilai yang merupakan proses kegiatan yang merupakan titik temunya sebagai pemimpin pembelajaran tetap dengan berbagai cara akan menuntun peserta didik tersebut kearah yang lebih baik dalam pengambilan keputusan, dimana suatu keputusan yang akan kita ambil sebagai pemimpin pembelajaran adalah suatu keputusan yang bertanggung jawab.



Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat harus didasari oleh nilai-nilai kebajikan dan mengarah pada hasil akhir yang baik, tetapi harus melihat 4 paradigma , 3 prinsip dan melalui 9 langkah  pengujian dan  pengambilan keputusan, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat, sehingga membuat peserta didik merasa aman dan nyaman jika suatu lingkungan selalu menerapakan yang positif dan kondusif.


Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan yang sulit di lingkungan sekolah saya yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan suatu keputusan yaitu 
  • Lebih mementingkan perasaan dan ego
  • Rasa takut mengambil suatu  keputusan 
  • Pemahaman yang tidak tepat tentang informasi yang berkaitan dengan kasus yang ditangani
  • Sering terjadi perbedaan pandangan satu sama lain tentang suatu kasus
Kesulitan tersebut kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan sekolah dimana tidak mengetahui 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan yang belum di ketahui oleh stakeholder yang ada disekolah.



Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Pada konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada peserta didik. Karena itu, pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran hendaknya dapat “menuntun” dan memberikan ruang bagi peserta didik dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan ilmu -ilmu baru yang didapatnya, dimana keputusan yang diambil guru harus benar-benar mengakomodir  kebutuhan belajar murid yang beragam. Dengan demikian peserta didik dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain, dengan semua materi yang telah dipelajari dari modul Program Guru Penggerak sudah seharusnya memberikan keputusan yang bersifat positif, membuat siswa merasa nyaman, dan tenang

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?


Ketika seorang guru menjadi pemimpin pembelajaran melakukan suatu pengambilan keputusan yang memerdekakan murid maka dimasa depan murid-muridnya akan menjadi inovatif, kreatif dalam mengambil suatu keputusan yang baik untuk mereka, dan dengan menanamkan nilai-nilai positif atau nilai-nilai kebajikan sejak dini  dapat menjadi bekal dan kekuatan bagi murid menjalani kehidupannya dimasa depan.

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Pengambilan keputusan pada modul ini Sebagai pemimpin pembelajaran dengan modul-modul sebelumnya merupakan suatu tidak terpisahkan untuk mencapai kemerdekaan dalam belajar.  Dalam pengambilan keputusan yang tepat maka perlunya melihat bahwa keputusan tersebut berpihak pada murid, dan salah satu cara yang dapat diambil adalah dengan melihat apakah pembelajaran berdiferensiasi sosail emosional kepada murid tela diberikan dengan baik? 
Seorang guru juga harus melakukan coaching kepada murid agar mereka menemukan potensi dan solusi terbaik untuk dirinya dengan peran guru sebagai penuntun. Dan anak anak akan berkembang sesuai dengan kodratnya yaitu kodrat alam dan kodrat zaman. Oleh karena itu sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu melakukan pembelajaran merdeka belajar serta berpusat pada murid serta dalam Pengambilan Keputusan kita seagai pemimpin pembelajaran memilih salah satu alternatif dari alternatif yang ada, dengan menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah-langkah pengujian dan pengambilan keputusan.




#SalamBahagia
#SalamSehat



ATAU blog

3.3.a.10 Aksi Nyata - Pengelolaan Program yang Berdampak Pada Murid

Tujuan Pembelajaran Khusus:   CGP dapat menjalankan rancangan program/kegiatan  yang dibuat di tahapan koneksi antarmateri C...