Kamis, 07 April 2022

3.1.a10. Aksi Nyata Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

3.1.a10. Aksi Nyata
Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran


Tujuan Pembelajaran Khusus : CGP dapat mempraktikkan proses pengambilan keputusan, paradigma, prinsip, dan pengujian keputusan di sekolah CGP.

Aksi Nyata: Praktik menjadi pengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran

Pada tahapan akhir dari siklus pembelajaran MERRDEKA, Bapak/Ibu CGP akan mendapat kesempatan untuk menjalankan rancangan yang sudah dibuat pada tahap demonstrasi kontekstual. Anda memiliki durasi empat (4) minggu untuk menjalankan rancangan tersebut. Selama menjalankan Aksi Nyata, dokumentasikan proses yang terjadi, terutama pada tahapan-tahapan yang Anda anggap penting. Dokumentasi dapat berupa foto atau video.

Semua dokumentasi yang terkait dengan pelaksanaan aksi nyata Anda akan menjadi bagian dari portofolio Paket Modul 3, yang akan Anda kumpulkan di akhir pelaksanaan Paket Modul 3.

Sebagai informasi, untuk portfolio yang akan Anda buat nanti, Anda akan diminta membuat sebuah artikel yang ditulis dengan gaya masing-masing CGP namun harus mengandung keempat komponen dalam kerangka 4P (4F), yaitu:


Pelaksanaan Vaksin Bagi Anak Usia 6-11 Tahun

A. Facts (Peristiwa)

Latar belakang tentang situasi yang dihadapi

Musibah yang telah terjadi di seluruh dunia terutama di Indonesia dengan adanya wabah virus Covid 19 dan beberapa virus varian baru. Dengan keadaan seperti itu membuat negara Indonesia ada dalam pandemic yang berkepanjangan. Namun pemerintah Indonesia tidak berdiam diri dan menyerah begitu serta mencari solusi agar semua warga negara Indonesia tidak rentang terkena  virus dan adanya suatu usaha yang dapat menyelamatkan bangsa dari keterpurukan wabah. Usaha yang dilakukan diantaranya dengan lockdown, penerapan protokol kesehatan dengan 5M (Mencuci tangan, Memakai masker, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas). Upaya pencegahan wabah tersebut guna menekan angka penyebaran virus pada warga Indonesia, walaupun menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Namun pemerintah mencetuskan bahwa semua masyarakat harus di vaksin agar tidak rentang terkena visus yang dimulai pada 17 tahun keatas kemudian 12 tahun keatas. Terkait permasalahan pelaksanaan vaksin, hal itu banyak menimbulkan polemic besar dengan berbagai pernyataan negatif sehingga berdampak pada pemikiran masyarakat. Pada akhirnya pelaksanaan kurang berjalan dengan baik dapat dikatakan kurang mencapai target yang diinginkan.

Hal itu terjadi juga dikalangan peserta didik di sekolah dasar, sesuai adanya surat dari kementrian kesehatan HK.01.07/MENKES/6688/2021 tentang pelaksanaan vaksinasi Covid 19 bagi anak usia 6 sampai 11 tahun. Program yang di luncurkan oleh pemerintah amatlah baik sebagai bentuk ikhtiar dan kerjasama dengan pihak sekolah untuk mensosialisasikan kepada orangtua peserta didik dan peserta didik untuk mengikuti vaksin tersebut. Upaya sosialisasi dan bentuk pendekatan seperti yang diinginkan pemerintah sudah dilaksanakan  dan mengharapkan semua peserta didik dapat melaksanakannya. Namun kekuatan kami di sekolah  tidak sama dengan masyarakat, kami pihak sekolah  tidak  bisa berbuat banyak sepertinya pihak sekolah mengalami dilema etika karena mengalami pro kontra diantara orangtua peserta didik. Ada sebagian orangtua peserta didik yang menolak anaknya untuk di vaksin dengan berbagai  pertimbangan yang mereka yakini sendiri.

Hal itu bagi sekolah merupakan dilema yang cukup besar, karena bentuk vaksinasi untuk anak umur 6 -11  tahun adalah bentuk anjuran dari  pemerintah sebagai upaya pencegahan virus covid -19 namun harus berbenturan dengan orangtua peserta didik yang melarang anaknya untuk di vaksin. Artinya disini menimbulkan pernyataan sama-sama benar, yang pertama sekolah benar harus  menjalankan vaksinasi umur 6-11 tahun sebagai upaya pencegahan covid19 serta pernyataan benar  yang kedua sekolah benar harus menjadi partner yang baik untuk orangtua peserta didik untuk selalu bijak dan solid dengan apa yang menjadi pertimbangan  orangtua peserta didik untuk kebaikan anak-anaknya.

Dengan keadaan seperti itu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut namun harus diselesaikan dengan baik, agar tidak menimbulkan masalah yang lainnya dan program-program sekolah yang lainnya tidak terbengkalai. Itu artinya kita sekolah memerlukan pengambilan keputusan yang bijak dan tepat agar tujuan yang diharapkan bisa tercapai.

Data tersebut didukung dari hasil sosialisasi dengan orangtua peserta didik. Hal tersebut berpengaruh terhadap tingkat  vaksinasi di  sekolah yang masih rendah dimana ada sebagaian dari orangtua yang anaknya tidak mau anaknya di vaksin.

Kondisi tersebut sangat mempengaruhi proses pembelajaran dan penerimaan PIP bagi peserta didik. Setelah melakukan sosialisasi kami stakeholder di sekolah sering melakukan komunikasi tentang peserta didik yang orangtuanya melarang anaknya untuk divaksin baik itu secara  resmi (KKG Mini) atau tidak resmi (santai).

Disni Bukan hanya guru penggerak yang ada di sekolah saja yang bergerak untuk pengambilan keputusan. Guru penggerak harus menyebarluaskan pengetahuan, pengalaman dan praktik baik yang diperoleh selama pendidikan guru penggerak kepada seluruh warga sekolah. guru penggerak akan memberikan perubahan terhadap sekolah dan komunitas yang ada di sekolah. Salah satu bentuk pengimbasan yang dilakukan guru penggerak adalah melakukan aksi nyata yaitu aksi nyata modul 3.1 pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah salah satu peran yang harus dilakukan guru dan seluruh stakeholder yang ada di  sekolah. Pengambilan keputusan yang tepat yang mampu mengakomodir seluruh kepentingan warga sekolah khususnya peserta didik. Keputusan yang tepat diperoleh dengan melakukan langkah-langkah pengujian dan pengambilan keputusan. 

Agar selaras harus dilakukan sosialisasi dan praktik pengambilan keputusan kepada guru-guru dan peserta didik di SDN 18 Leppangeng.   Guru dapat melahirkan Peserta didik yang merdeka dari proses pengambilan keputusan yang tepat dari seorang guru. Pengambilan keputusan keputusan yang diawali dengan memetakan aset/sumber daya yang dimiliki menggunakan pendekatan inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA.


Kegiatan aksi nyata ini meliputi lima kegiatan yaitu : 

Kegiatan aksi nyata meliputi 5 hal berikut ini:

  1. Sosialisasi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran di komunitas KKG Kecamatan Bungoro
  2. Sosialisasi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran kepada pemangku kepentingan dan stakeholder sekolah dan komunitas praktisi serta seluruh warga sekolah
  3. Melakukan pendekatan ke orangtua peserta didik yang anaknya tidak diizinkan vaksin (coaching)
  4. Menampung alasan orangtua mengapa anaknya tidak divaksin
  5. Komunikasi dengan pihak medis
  6. Refleksi hasil pengambilan keputusan yang dialami pemangku kepentingan dan guru, kegiatan ini dilakukan oleh Calon Guru Penggerak.

Deskripsi Aksi nyata

Aksi nyata penerapan modul 3.1. pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang dilakukan Calon Guru Penggerak di SDN 18  Leppangeng dimulai dengan mensosialisasikan perbedaan dilema etika dan bujukan moral serta Sembilan langkah pengujian dan pengambilan keputusan. Sosialisasi dilakukan beberapa waktu yang berbeda. 

Pertama sosialisasi dilakukan di komunitas KKG Kec.bungoro kemudian lanjut  kepada kepala sekolah yang dihadiri oleh komunitas praktisi. Di lain waktu sosialisasi di lakukan kepada seluruh warga sekolah tak terkecuali peserta didik yang dikumpulkan di lapangan sekolah. 

Alhamdulillah kepala sekolah, komunitas praktisi, dan peserta didik menjadi paham perbedaan antara dilema etika dan bujukan moral. 

Mereka pun memahami bagaimana mengambil keputusan dengan mengaplikasikan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Mereka paham bagaimana mengambil keputusan yang meminimalisir kesalahan dan resiko akibat keputusan yang tidak tepat. Dan  mereka paham cara mengambil keputusan dengan tepat. Mereka pun diberi pemahaman terkait 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan selain dari 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Setelah melakukan ke lima kegiatan tersebut maka sekolah dapat mengambil keputusan yang bijak bagi pelaksana program pemerintah vaksinasi covid. Hal ini dilakukan dengan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan.

a.     Paradigma dilema etika

Individu lawan masyarakat, artinya sekolah lawan orangtua peserta didik sebagai aset di sekolah. ada juga paradima jangka pendek lawan jangka panjang. Dari pihak sekolah memikirkan jangka pendek bisa saja memaksa orangtua peserta didik agar anaknya di vaksin. Namun jika jangka panjang  terjadi yang tidak diinginkan akibat dari pemaksaan sekolah untuk anaknya divaksin apakah sekolah akan bertanggungjawab kedepannya.

b.    Prinsip pengambilan keputusan

Prinsip yang diambil yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) sekolah memikirkan hasil yang akan diraih setelah adanya keputusan yang dikeluarkan, agar bisa menenangkan aset sekolah dan tidak menimbulkan masalah lain yang tidak diharapkan.

c.     Langkah pengujian pengambilan keputusan

     Mengenali nilai-nilai yang bertentangan : 

    Adanya penolakan orangtua peserta didik untuk anaknya di vaksin

Menentuakan siapa yang terlibat dalam situasi ini : 

    Kepala sekolah, guru, peserta didik, orangtua peserta didik dan tenaga medis

Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

   Mengadakan sosialisasi kepada orangtua peserta didik, mengkormasi pada orang tua peserta didik kebenaran tidak bersedia divaksin bagi anaknya

Pengujian benar salah

   Uji legal        : Tidak ada hukum yang ditentan

   Uji regulasi   : adanya pelanggaran untuk tidak mengikuti program dari Kemenkes RI

   Uji intusi      : Memperdebatkan dilema yang sama-sama bena

   Uji publikasi : Akan menimbulkan masalah jika di ketahui oleh masyarakat luar

   Uji panutan/idola     : Akan mengambil langkah keputusan dan keputusan   yang bijak serta pebuh pertimbangan dari berbagai segi untuk kebaikan bersama ke depannya
Pengujian Paradigma benar lawan salah

Individu lawan masyarakat dan jangka pendek lawan jangka panjang

Melakukan prinsip resolusi

Rule -  Based Thinking atau berpikir berbasis peraturan

Prinsip dari Kasus Siswa yang tidak melakukan vaksinasi karena tidak adanya persetujuan dari salah satu orang tuanya. Prinsip ini telah sesuai dengan pertimbangan bahwa setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang mengikutinya, dan oleh sebab itu  setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid

Investigasi opsi trilema

Melakukan pendekatan ke orangtua peserta didik yang anaknya tidak diizinkan vaksin, membuat suatu perjanjian kepada orangtua peserta didik bahwa jika dikemudian hari ada peraturan bagi anak yang tidak vaksinasi maka tidak diperbolehkan belajar di sekolah, melainkan kembali belajar di rumah secara online.

Serta apabila ada bantuan dana PIP yang mengharuskan vaksin dikemudian hari bagi peserta didik maka tidak di perbolehkan menerima dana PIP sebelum anak mereka vaksin.

Buat keputusan

Keputusan yang diambil oleh sekolah tetap melaksanakan vaksin peserta didik usia 6-11 tahun dan bagi yang tidak bersedia dan bersedia  akan di bagikan membuat surat pernyataan hal tersebut bertujuan untuk kekuatan/referensi bagi sekolah jika ada yang menanyakan tentang proses vaksin yang tak sesuai target100%

Lihat lagi keputusan dan refleksikan

v    Keputusan yang diambil sudah tepat karena pihak sekolah ada kekhawatiran jika tetap melakukan peraturan vaksinasi tersebut akan terjadi masalah yang bisa berakibat fatal.

v    Meskipun Vaksinasi adalah salah satu program pemerintah yang harus ditaati, namun dalam hal ini tidak boleh ada unsur pemaksaan karena kondisi atau keadaan anak berbeda-beda.


Alasan mengapa melakukan aksi tersebut

Perubahan tidak akan berjalan maksimal jika dilakukan hanya oleh CGP saja. Perlu adanya keterlibatan dari berbagai pihak khusus pemimpin/kepala sekolah dan seluruh warga sekolah. dilema etika merupakan dua kebenaran yang datang secara bersamaan dan perlu ada satu pilihan tepat dari kedua kebenaran tersebut. 

Dengan sosialisasi terhadap kepala sekolah, komunitas praktisi dan para peserta didik akan memberikan pencerahan dalam pengambilan keputusan permasalahan dilema etika yang dihadapi warga sekolah. 

Dengan menyikapi permasalahan tersebut maka sekolah perlu mengambil suatu tindakan yang sangat bijak dengan mempertimbangkan dari berbagai segi dan dikhawatirkan akan membawa pengaruh bagi orangtua yang lainnya yang telah menyatakan anaknya untuk  divaksin.


Hasil Aksi Nyata yang dilakukan

Pada komunitas KKG Kec.Bungoro serta warga sekolah meliputi kepala sekolah, guru dan peserta didik jadi tahu tentang apa itu dilema etika, bujukan moral, dan 9 langkah dalam pengambilan keputusan. Mereka pun lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Bahkan keputusan yang telah dibuat direfleksi kembali untuk meyakinkan apakah keputusan tersebut sudah dapat mewakili kepentingan orang lain dan tepat. Apakah keputusan yang diambil tidak menimbulkan polemik susulan. Ataukah jika tidak tepat segala kemungkinan yang muncul akan dapat di minimalisir.

Berdasarkan hasil keputusan yang diambil maka sekolah kami melaksanakan vaksinasi usia 6-11 tahun sesuai edaran kementrian RI. Hal tersebut salah satu bentuk keputusan yang dan mempertimbangkan pentingnya vaksin, diantaranya : mengurangi tingkat penyebaran virus corona, anak dapat beraktivitas di ruang terbuka dengan aman.

Berikut ini ada beberapa dokumentasi aksi nyata Modul 3.1 Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang di lakukan di Komunitas KKG Kec.Bungoro dan di SDN 18 Leppangeng:





Gambar 3. Tanya jawab dengan Orangtua Peserta didik


Gambar 4. Refleksi dengan Warga sekolah


B.  Feelings (Perasaan)

Perasaan saya setelah melakukan aksi nyata rasa keraguan sering muncul yang campur aduk antara bingung, galau dan takut. Apakah praktik baik yang akan dilakukan yaitu sosialisasi pengetahuan dan pengalaman terkait konsep pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran akan diterima dan dipahami oleh seluruh komunitas KKG se Kec.Bungoro, warga sekolah, dan apakah peserta didik mampu menerapkan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan jika terjadi sebuah kasus serta apakah guru dapat menerapkan 9 langkah tersebut terkait kasus vaksin. Seiring dengan proses yang dilakukan keraguan tersebut terbantahkan. Seluruh warga sekolah menerima dengan tangan terbuka terhadap perubahan yang dilakukan dalam pengambilan keputusan.Walaupun konsep pengambilan dan pengujian keputusan termasuk konsep baru Alhamdulillah proses sosialisasi kepada seluruh komunitas KKG Kec.Bungoro, warga sekolah berjalan sesuai dengan harapan dan guru pun mampu menerapkan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan terhadap kasus vaksin yang terjadi di sekolah.  


C.  Findings (Pembelajaran)

Dari pelaksanaan aksi nyata yang dilakukan di Komunitas KKG dan SDN 18 Leppangeng banyak sekali pembelajaran yang dapat kita ambil. Dalam menanggapi suatu kasus perlu adanya pertimbangan dari berbagai pihak dan mampu berkolaborasi dengan yang lainnya di sekolah untuk menghasilkan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan dan mengandung nilai manfaat. Sehingga suatu kasus dapat dijadika refleksi dalam menyikapinya.

Praktik baik penerapan konsep pengambilan keputusan dilakukan kepada beberapa guru yang orangtuanya tidak menginginkan anaknya di vaksin. Tidak menutup kemungkinan guru kebingungan dan bahkan tidak secara maksimal mampu mempraktikkan 9 langkah pengambilan keputusan dalam menyelesaikan kasus dilema etika (vaksin). Pengambilan keputusan bisa jadi tidak berjalan seutuhnya apalagi pengambilan keputusan tersebut berbenturan dengan kebijakan yang telah dibuat dan disepakati bersama oleh pemangku kebijakan dalam satu institusi (Sekolah).

Suatu praktik baik yang dilakukan dengan niat tulus dan sejalan dengan peningkatan kualitas seluruh elemen institusi akan memberikan kemanfaatan dan keberhasilan terhadap institusi tersebut. Begitu pun dengan praktik baik yang dilakukan CGP di SDN 18 Leppangeng memberikan beberapa keberhasilan di antaranya sebagai berikut:

  •   Pengetahuan dan pengalaman dalam pengambilan keputusan seluruh komunitas KKG yang ada di kecamatan Bungoro dan warga sekolah makin bertambah dan meningkat.
  •    Kepala sekolah, guru, peserta didik dan warga sekolah lainnya bergerak bersinergis menerapkan proses pengambilan keputusan baik di kegiatan sekolah ataupun di kelas .
  •     Terjadi perubahan paradigma warga sekolah dalam pengambilan keputusan yang tadi selalu bergerak cepat sekarang ada proses dengan pertimbangan dan menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan.  

D. Future (Penerapan ke depan)

Setelah melaksanakan aksi nyata banyak hal yang saya dapatkan sesuai dengan materi pada modul 3.1 pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Saya akan menerapkan prinsip berfikir dalam pengambilan keputusan dengan mengacu melalui tahapan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Dimana dalam pengambilan suatu keputusan perlu memperhatikan berbagai aspek sebelum memutuskan suatu keputusan yang tepat. Keputusan yang diambil adalah keputusan yang bertujuan untuk kepentingan murid serta dipertanggungjawabkan pada nilai-nilai kebajikan universal. Memaksimalkan peran komunitas praktisi dalam membentuk dan menerapkan konsep pengambilan keputusan sebagai agen perubahan yang akan memberikan layanan terhadap kesulitan yang terjadi pada proses pengambilan keputusan yang dilakukan.
Melibatkan warga sekolah untuk melakukan umpan balik dari setiap pengambilan keputusan yang dibuat dan memberikan keleluasaan untuk memberikan masukan demi ketepatan keputusan dan melakukan refleksi.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

3.3.a.10 Aksi Nyata - Pengelolaan Program yang Berdampak Pada Murid

Tujuan Pembelajaran Khusus:   CGP dapat menjalankan rancangan program/kegiatan  yang dibuat di tahapan koneksi antarmateri C...