Rabu, 15 Desember 2021

2.3.a.9 Koneksi Antar Materi - Coaching

Sri Ratna Tahir 
CGP Angkatan 3
Kabupaten Pangkep 
Sulawesi Selatan



A. KESIMPULAN

Tujuan pendidikan itu proses menuntun tumbuh kembangnya anak sesuai dengan kodrat yang dimilikinya agar anak tersebut memperoleh kebahagaian dan keselamatan baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat.
Dalam proses menuntun itu kita melakukan coaching, dimana guru berperan sebagai coach yang menuntun peserta didik sebagai coachee dengan mengajukan pertanyaan yang menggali segala potensi yang ada pada peserta didik.
Coaching dalam konteks pendidikan adalah menuntun, coaching merupakan salah satu proses "menuntun" belajar murid mencapai kodratya.
Dalam proses coaching, peserta didik diberi kebebasan, sebagai seorang pamong. Guru dapat memberikan tuntunan melalui pertanyaan-pertanyaan yang reflektif dan efektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.

Coaching dalam konteks pendidikan 
Pentingnya proses coaching :
  • Proses untuk mengaktivasi kerja otak murid.
  • Pertanyaan-pertanyaan reflektif dapat membuat murid melakukan metakognisi
  • Pertanyaan-pertanyaan coaching juga membuat murid lebih berfikir secara kritis dan mendalam sehingga murid dapat menunjukkan potensinya
Coaching yang di lakukan oleh coach kepada coachee harus memiliki 4 keterampilan yaitu:
  1. Keterampilan membangun dasar proses coaching
  2. Keterampilan membangun hubungan baik
  3. Keterampilan berkomunikasi
  4. Keterampilan memfasilitasi pembelajaran
Coaching dalam konteks pendidikan 
Among :
  • Menilik kembali pada Filosofi Ki Hadjar Dewantara dimana pendidik diharapkan berperan sebagai penuntun bagi anak didiknya, maka kita bersama perlu memahami proses pendekatan komunikasi coaching ini agar selaras dengan proses among yang kita hidupi dalam keseharian sebagai pendidik.
  • Pendampingan yang kita lakukan bagi anak-anak didik kita, seyogyanya memberikan arti dalam proses tumbuh kembang sehigga para coachee mengalami proses yang bermakna dari setiap langkah TIRTA yang dijalani dan potensi mereka tergali optimal 
Dalam proses coaching yang kita terapkan pada modul 2.3 ini adalah model TIRTA dimana kepanjangan dari model ini adalah Tujuan Utama, Identifikasi masalah, Rencana aksi dan TAnggung jawab. Dalam Aksi Aspek berkomunikasi untuk mendukung praktik coaching antara lain, Komunikasi Asertif menjadi Pendengar aktif, Bertanya reflektif dan Umpan balik positif.

Dari deskripsi diatas bahwa coaching sangat erat kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi -  sosial emosional, mengapa? karena dengan menggunakan teknik coaching membutuhkan sosial emosional untuk mengenal peserta didik kita, bagaimana perasaanya, sedangkan pada pembelajaran berdiferensiasi guru memungkinkan untuk mengenal murid lebih baik dan oleh karena itu membuat keputusan terbaik untuk menantang mereka dengan tepat dan melibatkan mereka dalam pembelajaran. 

B. Refleksi 
Untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid itu sangatlah susah, walaupun susah kita harus tetap belajar perlu kerjakeras dan komitmen dimana seorang guru memberikan pembelajaran yang terbaik bagi peserta didiknya, dimana pembelajaran tersebut harus berpihak pada murid. Guru disini dituntut memberikan pembelajaran beridferensiasi bagi muridnya karena murid itu terdiri dari beberapa macam karakter yang berbeda-beda dan sosial emosional setiap anak didik dengan melakukan antara lain teknik STOP, maka disinilah praktik coaching dapat dilaksanakan juga untuk mengetahui masalah atau keinginan murid kita mengenai pembelajaran dan sosial emosional mereka. Dimana guru berperan sebagai coach dan peserta didik sebagai coachee. Maka dari itu marilah kita semua terus tergerak, bergerak dan menggerakkan para pendidik untuk melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid.



Jumat, 10 Desember 2021

Aksi Terkait Visi Misi

 Aksi Visi Misi di Sekolah

yang Berpihak Pada Murid

Aksi adalah kegiatan atau tindakan yang di lakukan untuk melakukan perubahan dan mencapai tujuan bersama. Dalam hal adalah aksi yang dimaksud adalah aksi yang berdampak pada murid.

Aksi atau pelaksanaan dari program sekolah yang berdampak kepada murid tidak dapat dilakukan sendiri tetapi harus dengan kolaborasi atau gotong royong. 

Visi, Misi dan Tujuan yang telah disusun dan direncanakan oleh Kepala Sekolah dan CGP pada saat  Lokakarya 3 dan telah melakukan sosialisasi dengan rekan sejawat yang ada di sekolah melalui bincang-bincang santai pada saat jam istirahat. Respon rekan sejawat sangat antusias karena mereka mengatakan bahwa penanaman akhlak sejak dini itu sangat penting bagi perkembangan peserta didik yang ada di sekolah yang dimana nantinya akan berlangsung secara terus menerus. 

Adapun visi, misi, dan tujuan adalah :

Visi

Membentuk peserta didik yang berakhlak mulia

Misi

Menanamkan sikap patuh pada ajaran agama dan akhlak mulia kehidupan sehari-hari

Tujuan yang ingin dicapai dari program yang dilaksanakan, yaitu: 

  1. Mampu membentuk peserta didik yang pandai baca Al Qur’an
  2. Mampu membentuk peserta didik yang taat beribadah
  3. Mempu membentuk peserta didik yang berakhlak mulia

Literasi Hafal Al Qur'an Surah Pendek di Kelas Rendah


Shalat Dhuha Kelas Tinggi 



Literasi Membaca Al  Qur'an Besar di Kelas Tinggi



#SriRatnaTahir
#CGPAngkatan3
#KabupatenPangkep
#SulawesiSelatan








Kamis, 09 Desember 2021

1.4 Aksi Nyata - Budaya Positif

Penarapan Budaya Positif melalui 

kesepakatan kelas 

A. Latar Belakang

Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara pada hakikatnya menuntun siswa untuk mencapai perubahan tingkah laku dan menumbuhkan kekuatan kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya dalam hidup baik sebagai seorang manusia maupun anggota masyarakat, dimana relevansi pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut dengan konteks pendidikan di Indonesia dan di sekolah saat ini yaitu bahwa pendidikan berpusat kepada peserta didik dan pendidikan yang diberikan kepada peserta didikmengikuti kodrat zamannya saat ini. 

Aktivitas pembelajaran dan kegiatan yang ada di sekolah hendaknya bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai positif yang bersumber dari profil pelajar pancasila yang ingin diwujudkan dalam diri peserta didik, dalam penerapan budaya positif yang mengandung nilai-nilai positif dalam visi guru penggerak dan visi sekolah yang dapat dicapai melalui pembiasaan-pembiasaan yang terus-menerus dan berkesinambungan secara konsisten.

Kesepakatan kelas dilakukan dengan melibatkan murid dalam penyusunannya dan berisi peraturan dan nilai-nilai positif yang menjadi acuan tujuan pendidikan. Dalam melaksanakan kesepakatan kelas diperlukan penerapan disiplin positif yang mengutamakan penumbuhan inisiatif atau kesadaran intrinsik murid untuk melakukan nilai-nilai yang positif. Tidak di perkenankan penerapan menggunakan hukuman atas pelanggaran peraturan yang mereka lakukan melainkan menyadarkan murid akan adanya konsekuensi dari pelanggaran, tidak di perkenankan janji pemberian hadiah atas pencapaian positif,  Oleh karena itu, sangat penting untuk menempatkan posisi kontrol guru yang tepat sebagai manager dalam penumbuhan budaya positif di sekolah

B. Tujuan

Tujuan dari tindakan aksi nyata ini adalah untuk menerapkan budaya positif di kelas agar peserta didik dapat menumbuhkan dan mewujudkan nilai-nilai positif dalam kegiatan pembelajaran di kelas melalui pembiasaan melaksanakan kesepakatan kelas, penerapan disiplin positif dalam aktivitas penerapan budaya positif bersama antara guru dan peserta didik.

C.  Tolak Ukur

    1. Peserta didik dan guru menyepakati kesepakatan kelas yang sudah disusun.

    2. Peserta didik dan guru dapat menerapkan budaya positif di kelas yang terdapat dalam kesepakatan kelas.

D. Penarapan Budaya Positif melalui kesepakatan kelas 

Perasaan selama penerapan kesepakan kelas

Saya merasa senang karena peserta didik saya antusias dalam membuat kesepakatan kelas, saya juga merasa bersemangat dan termotivasi untuk memperbaiki pembelajaran melihat ke antusiasan peserta didik dalam membuat suatu kesepakatan.

Ide atau gagasan yang timbul sepanjang proses perubahan

Saya ingin menjadi teladan dan motivator bagi peserta didik saya untuk menjadi pemimpin dimana kesepakatan kelas harus dimulai dari diri seorang guru sehingga dapat menjadi contoh bagi peserta didiknya, Saya ingin menjadi  fasilitator bagi peserta didik saya dengan menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid dengan penerapan kesepakatan kelas. 

Pembelajaran dan Pengalaman dalam bentuk catatan praktik baik

Mendidik peserta didik dalam pengambilan keputusan yang dapat di patuhinya selama di kelas maupun di luar kelas, serta mengajar dengan berpihak kepada  murid yang sesuai dengan kodrat zaman sehingga peserta didik dapat berkembang sesuai dengan bakat yang dimilikinya tanpa ada paksaan dengan penerapan kesepakatan kelas yang sudah di sepakati bersama yang di dalamnya tidak adanya penerapan pemberian hukuman pada saat melanggar kesepakatan yang telah dibuat dan tidak adanya janji pemberian hadiah jika mereka melaksanakannya.

Dokumentasi Aksi Nyata Kesepakatan Kelas

Rencana





Penerapan


Berdoa sebelum dan sesudah belajar 

Refleksi

Tindak lanjut lebih memotivasi peserta didik dalam menjalankan kesepkatan kelas dengan sungguh-sungguh dengan selalu mematuhinya dan saling mengingatkan jika ada salah satu dari temannya tidak mematuhinya.




 





3.3.a.10 Aksi Nyata - Pengelolaan Program yang Berdampak Pada Murid

Tujuan Pembelajaran Khusus:   CGP dapat menjalankan rancangan program/kegiatan  yang dibuat di tahapan koneksi antarmateri C...