Sri Ratna Tahir
CGP Angkatan 3
Kabupaten Pangkep
Sulawesi Selatan
A. KESIMPULAN
Tujuan pendidikan itu proses menuntun tumbuh kembangnya anak sesuai dengan kodrat yang dimilikinya agar anak tersebut memperoleh kebahagaian dan keselamatan baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat.
Dalam proses menuntun itu kita melakukan coaching, dimana guru berperan sebagai coach yang menuntun peserta didik sebagai coachee dengan mengajukan pertanyaan yang menggali segala potensi yang ada pada peserta didik.
Coaching dalam konteks pendidikan adalah menuntun, coaching merupakan salah satu proses "menuntun" belajar murid mencapai kodratya.
Dalam proses coaching, peserta didik diberi kebebasan, sebagai seorang pamong. Guru dapat memberikan tuntunan melalui pertanyaan-pertanyaan yang reflektif dan efektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.
Coaching dalam konteks pendidikan
Pentingnya proses coaching :
- Proses untuk mengaktivasi kerja otak murid.
- Pertanyaan-pertanyaan reflektif dapat membuat murid melakukan metakognisi
- Pertanyaan-pertanyaan coaching juga membuat murid lebih berfikir secara kritis dan mendalam sehingga murid dapat menunjukkan potensinya
- Keterampilan membangun dasar proses coaching
- Keterampilan membangun hubungan baik
- Keterampilan berkomunikasi
- Keterampilan memfasilitasi pembelajaran
Among :
- Menilik kembali pada Filosofi Ki Hadjar Dewantara dimana pendidik diharapkan berperan sebagai penuntun bagi anak didiknya, maka kita bersama perlu memahami proses pendekatan komunikasi coaching ini agar selaras dengan proses among yang kita hidupi dalam keseharian sebagai pendidik.
- Pendampingan yang kita lakukan bagi anak-anak didik kita, seyogyanya memberikan arti dalam proses tumbuh kembang sehigga para coachee mengalami proses yang bermakna dari setiap langkah TIRTA yang dijalani dan potensi mereka tergali optimal
Dari deskripsi diatas bahwa coaching sangat erat kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi - sosial emosional, mengapa? karena dengan menggunakan teknik coaching membutuhkan sosial emosional untuk mengenal peserta didik kita, bagaimana perasaanya, sedangkan pada pembelajaran berdiferensiasi guru memungkinkan untuk mengenal murid lebih baik dan oleh karena itu membuat keputusan terbaik untuk menantang mereka dengan tepat dan melibatkan mereka dalam pembelajaran.
B. Refleksi
Untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid itu sangatlah susah, walaupun susah kita harus tetap belajar perlu kerjakeras dan komitmen dimana seorang guru memberikan pembelajaran yang terbaik bagi peserta didiknya, dimana pembelajaran tersebut harus berpihak pada murid. Guru disini dituntut memberikan pembelajaran beridferensiasi bagi muridnya karena murid itu terdiri dari beberapa macam karakter yang berbeda-beda dan sosial emosional setiap anak didik dengan melakukan antara lain teknik STOP, maka disinilah praktik coaching dapat dilaksanakan juga untuk mengetahui masalah atau keinginan murid kita mengenai pembelajaran dan sosial emosional mereka. Dimana guru berperan sebagai coach dan peserta didik sebagai coachee. Maka dari itu marilah kita semua terus tergerak, bergerak dan menggerakkan para pendidik untuk melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar