Minggu, 27 Februari 2022

3.2.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 20

 3.2.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 20

Model 1 : 4F (Fact, Feelings, Findings, Future)

4F merupakan model  refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahka menjadi 4P

  1. Fact (Peristiwa) 
  2. Feelings (Perasaan)
  3. Findings (Pembelajaran)
  4. Future (Penerapan)

Diary





Senin, 21 Februari 2022

3.1.a.10.3. Jurnal Refleksi - Minggu 19

Jurnal Refleksi Minggu ke 19 ini saya menggunakan Model 5 : 4C ( Connection, Challenge, Concept, Change)

Tahapan dari Model 5 ini yaitu :

  1. Coonection : Keterkaitan materi yang didapat dengan peran kita sebagai Calon Guru Penggerak
  2. Challenge : Ide, materi atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang kita jalanani selama ini
  3. Concept : Menceritakan konsep utama yang dipelajari dan menurut kita penting untuk terus dibawa selama menjadi CGP atau bahkan setelah menjadi GP
  4. Change : Perubahan yangterjadi dalam diri kita yang ingin di lakukan setelah mendapatkan materi 

Sabtu, 19 Februari 2022

3.1.a.10.2. Jurnal Refleksi - Minggu 18

Jurnal Refleksi Minggu 18 ini saya menggunakan Model 7 : Segitiga Refleksi

Tahapan dari Segitiga Refleksi ini di mulai :

  1. Kemampuan kita setelah mempelajari materi 
  2. Pemahaman tentang materi yang sudah di pelajari
  3. Target berikutnya setelah mempelajari materi
  4. Perasaan setelah melakukan pembelajaran





https://online.fliphtml5.com/fypij/tsjl/ 


Jumat, 18 Februari 2022

3.1.a.9. Koneksi Antar materi Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

3.1.a.9. Blog Rangkuman Koneksi Antar Materi

Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Filosofi Pratap Triloka yang digagas oleh Ki Hajar Dewatara yang kemudian dikembangkan menjadi tiga prinsip kepemimpian KHD yaitu Ing ngarsa Sung Taladha (didepan memberi telada), Ing Madya Mangun Karsa ( di tengah membangun kehendak atau niat), dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberikan dorongan dan arahan). Berdasarkan semboyan tersebut sudah sepatutnya kita menerapkan pengambilan keputusan yang berpihak pada murid, dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan. Disadari atau tidak ke tiga prinsip tersebut berpengaruh kepada pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
 
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Seorang pemimpin harus memiliki nilai-nilai moral seperti kebenaran, keadilan, sopan santun, toleransi, kasih  sayang dan lain-lain. Nilai tersebut harus di yakini dan di pegang teguh dalam diri kita sehingga dapat dijadikan basis pengambilan suatu keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, disadari atapun tidak nilai-nilai inilah yang mendasari suatu pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang dimana mengandung suatu dilema etika.
Guru sebagai pemimpin pembelajaran tentu pernah mengalami suatu dilema etika atau bujukan moral pada sebuah keputusan yang diambil saat menangani kasus murid  atau rekan sejawat di sekolah. Terlepas dari ketiga prinsip kepemimpinan menurut KHD ada prinsip-prinsip yang lain, namun ketiga prinsip di sini adalah yang paling sering dikenali kita digunakan sebagai seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil sebuah keputusan. ketiga prinsip ini yang sering kali membantu dalam menghadapi pilihan- pilihan yang penuh tantangan, yang harus kita hadapi sebagai pemimpin pembelajaran. Ketiga prinsip tersebut adalah:
  • Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  • Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  • Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.


Dalam aspek pembelajaran dikelas guru sebagai pembawa agen perubahan harus bisa mengetahui kebutuhan belajar peserta didik sekaligus sebagai pemberi contoh yang baik bagi peserta didik memahami karakter belajar peserta didik serta kondisi sosial emosional sebagai pemimpin pembelajaran dikelas. Dalam hal ini juga untuk terciptanya profil pelajar Pancasila peserta didik harus bisa menyelesaiakan sendiri persoalan belajarnya di kelas yang merupakan dilema bagi mereka, dan di sinilah penting pendekatan Coaching, dimana guru sebagai coach memberi pertanyaan yang akan dijawab oleh peserta didik untuk menyelesaikan sendiri setiap persoalan yang dialaminya terutama yang merupakan dilema baginya. Guru sebagai pemimpin pembelajaran selalu bersedia meluangkan waktu jika peserta didik membutuhkan, atau jika melihat ada perubahan belajar yang menurun pada peserta didik. Coaching tidak terlepas dari komunikasi yang baik antara coach dan coachee, Harapan coaching dapat mengatasai masalah belajar siswa. Diharapkan proses pengambilan keputusan dalam coaching dapat dilakukan dengan kesadaran penuh (mindfull), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada. 

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional akan berpengaruh terhadap suatu pengambilan keputusan dimana guru harus melakukan pembelajaran yang berisi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan anak untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya.Sebagai pemimpin pembelajaran ketika mengambil keputusan harus dilakukan dengan kesadaran penuh (minful) dengan berbagai pilihan dan konskuensi yang ada, karena permasalahan muncul tidak melihat bagaimana kondisi emosional kita,untuk mengambil suatu keputusan yang bertanggung jawab diperlukan kompetensi kesadaran diri (Self awareness), pengelolaan diri (Self management), kesadaran sosial (social awareness), dan keterampilan hubungan social (relationship skills).

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Ketika Guru berhadapan dengan kasus-kasus yang fokus pada masalah moral atau etika, maka nilai-nilai diri yang dianut dan yang paling dihargai oleh seorang pendidik akan sangat mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan. Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid , tentunya akan sangat mempengaruhi paradigma dan prinsip pengambilan keputusan seorang Guru Penggerak dan langkah - langkah yang akan diambil. Nilai-nilai yang yang akan kita ambil merupakan nilai-nilai yang merupakan proses kegiatan yang merupakan titik temunya sebagai pemimpin pembelajaran tetap dengan berbagai cara akan menuntun peserta didik tersebut kearah yang lebih baik dalam pengambilan keputusan, dimana suatu keputusan yang akan kita ambil sebagai pemimpin pembelajaran adalah suatu keputusan yang bertanggung jawab.



Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat harus didasari oleh nilai-nilai kebajikan dan mengarah pada hasil akhir yang baik, tetapi harus melihat 4 paradigma , 3 prinsip dan melalui 9 langkah  pengujian dan  pengambilan keputusan, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat, sehingga membuat peserta didik merasa aman dan nyaman jika suatu lingkungan selalu menerapakan yang positif dan kondusif.


Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan yang sulit di lingkungan sekolah saya yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan suatu keputusan yaitu 
  • Lebih mementingkan perasaan dan ego
  • Rasa takut mengambil suatu  keputusan 
  • Pemahaman yang tidak tepat tentang informasi yang berkaitan dengan kasus yang ditangani
  • Sering terjadi perbedaan pandangan satu sama lain tentang suatu kasus
Kesulitan tersebut kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan sekolah dimana tidak mengetahui 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan yang belum di ketahui oleh stakeholder yang ada disekolah.



Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Pada konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada peserta didik. Karena itu, pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran hendaknya dapat “menuntun” dan memberikan ruang bagi peserta didik dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan ilmu -ilmu baru yang didapatnya, dimana keputusan yang diambil guru harus benar-benar mengakomodir  kebutuhan belajar murid yang beragam. Dengan demikian peserta didik dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain, dengan semua materi yang telah dipelajari dari modul Program Guru Penggerak sudah seharusnya memberikan keputusan yang bersifat positif, membuat siswa merasa nyaman, dan tenang

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?


Ketika seorang guru menjadi pemimpin pembelajaran melakukan suatu pengambilan keputusan yang memerdekakan murid maka dimasa depan murid-muridnya akan menjadi inovatif, kreatif dalam mengambil suatu keputusan yang baik untuk mereka, dan dengan menanamkan nilai-nilai positif atau nilai-nilai kebajikan sejak dini  dapat menjadi bekal dan kekuatan bagi murid menjalani kehidupannya dimasa depan.

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Pengambilan keputusan pada modul ini Sebagai pemimpin pembelajaran dengan modul-modul sebelumnya merupakan suatu tidak terpisahkan untuk mencapai kemerdekaan dalam belajar.  Dalam pengambilan keputusan yang tepat maka perlunya melihat bahwa keputusan tersebut berpihak pada murid, dan salah satu cara yang dapat diambil adalah dengan melihat apakah pembelajaran berdiferensiasi sosail emosional kepada murid tela diberikan dengan baik? 
Seorang guru juga harus melakukan coaching kepada murid agar mereka menemukan potensi dan solusi terbaik untuk dirinya dengan peran guru sebagai penuntun. Dan anak anak akan berkembang sesuai dengan kodratnya yaitu kodrat alam dan kodrat zaman. Oleh karena itu sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu melakukan pembelajaran merdeka belajar serta berpusat pada murid serta dalam Pengambilan Keputusan kita seagai pemimpin pembelajaran memilih salah satu alternatif dari alternatif yang ada, dengan menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah-langkah pengujian dan pengambilan keputusan.




#SalamBahagia
#SalamSehat



ATAU blog

Senin, 14 Februari 2022

Jurnal Monolog - 3.1.a.7 Demonstrasi Kontekstual

 Blog.Naratif

3.1.a.7 Demonstrasi Kontekstual - 

Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

    Sebelum menjawab pertanyaan dari LMS, saya akan memulai tulisan narasi ini dengan pengertian tentang pendidikan menurut salah seorang ahli yaitu H. Horne pengertian pendidikan adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia. Jadi pendidikan sejatinya didapatkan secara terus menerus mulai dari dalam kandungan sampai liang lahat.

      Adapun sebuah kutipan dari ~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~ Education is the art of making man ethical. Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.

    Pendidikan secara umum bertujuan untuk mencerdaskan dan mengembangkan potensi peserta didik, dimana pendidikan adalah suatu pondasi dalam hidup yang harus dibangun dengan sebaik mungkin. Pendidikan berfungsi melakukan proses penyadaran terhadap manusia untuk mampu mengenal, mengerti dan memahami suatu realitas kehidupan yang ada di sekitarnya sehingga dapat berperilaku sesuai realitas kehidupan, dengan adanya pendidikan potensi yang dimiliki oleh seseorang, kemudian pendidikan  mengatakan manusia tersebut untuk berfikir dan mengambil suatu keputusan atau tindakan yang rasional sebagai pemimpim pembelajaran.

    Saya sangat bahagia dan senang dapat menjadi salah satu peserta Calon Guru Penggerak Angkatan 3 karena banyak sekali pelngetahuan yang saya pelajari dan terapkan dan dapat saya salurkan ke teman sejawat yang ada di sekolah saya. Namun terdapat banyak kendala dalam menerapakan dan mensosialisasikannya ke teman sejawat, olehnya itu saya akan mencari solusi yang tidak asal mengambil suatu keputusan

"Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda?"

Sebagai seorang guru kita sering dihadapkan oleh berbagai masalah dimana sebuah kondisi kita dituntut memilih dua pilihan yang sangat berat. Kita sebagai guru yang merupakan pemimpin pembelajaran diharapkan dapat mengambil keputusan yang tepat serta tidak memihak terhadap salah satu masalah yang dihadapi. Seorang pemimpin pembelajaran harus bisa melihat apakah persoalan tersebut adalah dilema etika atau merupakan bujukan moral. Disini saya akan berkomunikasi dengan kepala sekolah sebagai penentu kebijakan yang ada di sekolah tentang program guru penggerak dan juga pembentukan suatu komunitas praktisi di sekolah agar program yang ada di  guru penggerak dapat tersalurkan ke teman guru yang ada di sekolah, jika kepala sekolah sudah menyetujui dan kemudian komunitas praktisi sudah terbentuk maka  disinilah saya akan membuat program untuk diterapkan ke teman guru yang ada di sekolah, baik melalui bincang-bincang dengan menggunakan waktu luang untuk berdiskusi melalui KKG mini dengan menghadirkan pengawas, kepala sekolah, komite dan rekan guru. Disinilah saya akan menerapkan pengetahuan yang saya dapat selama pelatiahan Calon Guru Penggerak dan akan menerapkan hal tersebut di kelas (murid) apabila terjadi kasus.

Dengan merenungkan apa yang akan saya buat nantinya, timbullah di benak saya tentang pertanyaan berikut:

"Apa langkah-langkah awal yang akan anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpim pembelajaran?"

Sebagai pemimpin pembelajaran dalam mengambil suatu keputusan kita tidak akan luput dari dilema etika dan atau bujukan moral baik itu di kelas maupun di lingkungan sekolah. Dalam hal ini kita harus menganalisis apakah kasus tersebut dilema etika atau bujukan moral. Seperti  pada awal modul 3.1 mulai dari diri maka saya akan menganalisis apakah dilema etika atau bujukan moral, jika kasus tersebut dilema etika maka saya akan menggunakan salah satu dari 4 dilema etika yang sesuai, menentukan dari salah satu dari 3 prinsip yang dapat membantu dalam menghadapi suatu pilihan, setalah itu saya akan menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sambil berdiskusi dengan kepala sekolah dan sesama teman guru di sekolah untuk mendengarkan pendapat mereka selain dari pendapat saya, dari 9 langkah pengambilan dan pengujian yang telah saya pelajari maka setiap mengambil suatu keputusan hendakanya kita mengenal nilai-nilai  yang saling bertentangan, menentukan siapa yang terlibat dalam kasus tersebut, mengumpulkan fakta-fakta yang relevan, pengujian benar salah (uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji publikasi, uji panutan), pengujian paradigma benar lawan benar, melakukan prinsip resolusi, Investigasi opsi trilema, buat keputusan, lihat lagi keputusan dan refleksikan, langkah-langkah tersebut dapat membantu dalam setiap pengambilan keputusan di kelas maupun di lingkungan sekolah.

Pertanyaan pun masih berkecamuk dipikiran saya yaitu :

"Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? Catat rencana Anda, sehingga Anda tidak lupa."

Saya akan menerapkan langkah-langkah tersebut dalam waktu dekat atau minggu ini dengan melakukan komunikasi dengan kepala sekolah tentang pembentukan komunitas praktisi (KKG Mini) di sekolah kemudian saya sakan mengelompokkan kelas awal dan kelas tinggi setalah itu saya akan membagikan 2 kasus dan memberikan print out 4 paradigma,  3 prinsip dan 9 langkah-langkah pengambilan dan  pengujian keputusan.

"Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif."

Yang akan menjadi pendamping saya sejak awal ikut CGP adalah kepala sekolah yang merupakan pemangku kepentingan tertinggi di sekolah dimana beliau sangat merespon segala tindakan yang saya lakukan dalam mengikuti program Calon Guru Penggerak ini dan beliau siap mendampingi saya dalam pengambilan keputusan dan saya juga melibatkan Komunitas praktisi yang ada di sekolah (KKG Mini) untuk melihat keputusan yang saya ambil.

Berikut tersedia daftar tugas/checklist yang perlu Anda perhatikan untuk ketentuan jurnal monolog tersebut, apakah segi materi dan tekniknya sudah terpenuhi:




#Kemudian apa lagi yach ....😁

Salam Guru Penggerak

Salam Bahagia

s.r.t


Rabu, 09 Februari 2022

3.1.a.4. Eksplorasi Konsep - Nilai-nilai Kebajikan Universal

 

Pengantar

Bapak dan Ibu Calon Guru Penggerak (CGP)

Sekolah adalah 'institusi moral' yang dirancang untuk membentuk karakter para warganya. Seorang pemimpin di sekolah tersebut akan menghadapi situasi di mana mengambil suatu keputusan yang banyak mengandung dilema secara Etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar. Keputusan-keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah. 

Dalam pengambilan suatu keputusan, seringkali kita bersinggungan dengan prinsip-prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku secara universal. Seseorang yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti.  Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran, dan masih banyak lagi. 

2.1 Nilai-nilai Kebajikan Universal

Tujuan Pembelajaran Khusus

  • CGP dapat mengidentifikasi dan memahami prinsip-prinsip etika yang berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dalam lingkungan pribadi maupun kerjanya.
  • CGP dapat mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang disepakati dan diyakini dalam proses pengambilan keputusan dilema etika.
  • CGP bersikap reflektif, kritis, dan terbuka dalam menganalisis nilai-nilai kebajikan yang terkandung dalam sebuah pengambilan keputusan dilema etika.
Pengantar

Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,

Sekolah adalah ‘institusi moral’  yang dirancang untuk membentuk karakter para warganya. Seorang pemimpin di sekolah tersebut akan menghadapi situasi di mana mengambil suatu keputusan yang banyak mengandung dilema secara Etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar. Keputusan-keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah.

Dalam pengambilan suatu keputusan, seringkali kita bersinggungan dengan prinsip-prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku secara universal. Seseorang yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti.  Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran, dan masih banyak lagi.

Pertanyaan Pemantik:

Anda mengetahui bahwa salah satu rekan guru Anda memberikan les privat kepada beberapa murid pada suatu pelajaran tertentu. Murid-murid yang mengikuti les privat telah mendapatkan soal-soal yang akan dijadikan bahan tes, dan tentunya hasil tes mereka menjadi sangat baik dibandingkan dengan hasil murid-murid yang lain. Apa yang harus Anda lakukan?

Dari permasalahan tersebut di atas Anda diminta untuk membuat suatu pertimbangan yang menyangkut dua nilai kebajikan yang sama-sama Anda junjung tinggi. Di satu sisi, Anda berhadapan dengan kebenaran, berbuat yang benar berarti melaporkan sesuatu yang melanggar peraturan sekolah, di sisi yang lain, rekan guru tersebut adalah sahabat Anda, di mana nilai kesetiaan Anda sebagai seorang teman? Bila dua nilai kebajikan saling bersinggungan apa yang harus Anda lakukan? Langkah mana yang harus Anda ambil, keputusan apa yang dibuat?

Seperti yang telah kita pelajari di modul 1.4 tentang Budaya Positif,  mengajarkan nilai-nilai kebajikan merupakan hal kunci yang perlu diajarkan kepada murid-murid kita. Diane Gossen (1998) berpendapat bahwa bila kita ingin menumbuhkan motivasi instrinsik dari dalam diri seseorang maka tumbuhkan pemahaman terhadap nilai-nilai kebajikan universal.

Di bawah ini ada beberapa contoh nilai-nilai kebajikan universal yang telah disepakati beberapa institusi:

1. IBO Primary Years Program (PYP)

Sikap Murid:

  • Toleransi
  • Rasa Hormat
  • Integritas
  • Mandiri
  • Menghargai
  • Antusias
  • Empati
  • Keingintahuan
  • Kreativitas
  • Kerja sama
  • Percaya Diri
  • Komitmen

2. Sembilan Pilar Karakter Indonesian Heritage Foundation (IHF):

  • Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNYA
  • Kemandirian dan Tanggung jawab
  • Kejujuran (Amanah), Diplomatis
  • Hormat dan Santun
  • Dermawan, Suka Menolong dan Gotong Royong
  • Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja Keras
  • Kepemimpinan dan Keadilan
  • Baik dan Rendah Hati
  • Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan

3. Petunjuk Seumur Hidup dan Keterampilan Hidup (LIfelong Guidelines and Life Skills)

Keterampilan Hidup

  • Dapat dipercaya
  • Lurus Hati
  • Pendengar yang Aktif
  • Tidak Merendahkan Orang Lain
  • Memberikan yang Terbaik dari Diri

Petunjuk Hidup

  • Peduli
  • Penalaran
  • Bekerja sama
  • Keberanian
  • Keingintahuan
  • Usaha
  • Keluwesan/Fleksibilitas
  • Berorganisasi
  • Kesabaran
  • Keteguhan hati
  • Kehormatan
  • Memiliki Rasa humor
  • Berinisiatif
  • Integritas
  • Pemecahan Masalah
  • Sumber pengetahuan
  • Tanggung jawab
  • Persahabatan

4. The Seven Essential Virtues (dari Building Moral Intelligence, Michele Borba):

  • Empati
  • Suara Hati
  • Kontrol Diri
  • Rasa Hormat
  • Kebaikan
  • Toleransi
  • Keadilan

Tugas 2.1

Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,

Setelah Anda membaca nilai-nilai kebajikan dari keempat institusi tadi, sekarang pilihlah salah satu yang menurut Anda paling menarikbandingkan dengan nilai-nilai kebajikan atau prinsip-prinsip yang Anda miliki di sekolah Anda. Adakah suatu perbedaan atau persamaan? Kemudian pikirkan bagaimana nilai-nilai kebajikan yang Anda pilih dapat disampaikan dalam pengajaran atau kira-kira bagaimana program pendalaman terhadap nilai-nilai kebajikan tersebut dapat disampaikan kepada murid-murid di sekolah Anda?

yang paling menarik dan yang sesuai di sekolah saya adalah Sembilan Pilar Karakter Indonesian Heritage Foundation (IHF) dimana penerapan tersebut sering kami terapakan di sekolah bahkan di dalam kelas pada saat proses

2.2 Bujukan Moral dan Dilema Etika

Silakan direnungkan beberapa pertanyaan pemantik berikut.

Keputusan apa yang akan Anda ambil dalam situasi-situasi di bawah ini? 

  1. Rayhan adalah seorang murid kelas 12 yang sangat berbakat dalam bidang seni. Dia juga sopan dan baik hati. Dia selalu membuat orang terkesan dengan karya-karya seni yang dibuatnya. Namun dia tidak menyukai pelajaran Matematika. Nilai-nilainya untuk pelajaran Matematika selalu dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Sebelum mengikuti Ujian Akhir SMA dan pengumuman kelulusan SMA, Rayhan sudah diterima di universitas pilihannya di jurusan Seni. Pada hari Ujian Sekolah pelajaran Matematika, Anda adalah guru pengawas ujiannya. Anda memergoki Rayhan menyontek pada saat ujian sekolah Matematika. Setelah ujian selesai, Anda memanggilnya ke ruangan Anda. Rayhan mengaku kalau ia menyontek, tapi ia mohon Anda tidak melaporkannya pada kepala sekolah. Ia melakukannya hanya untuk lulus SMA agar bisa kuliah di universitas impiannya. Apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan tetap melaporkan kepada kepala sekolah atau menyimpan rahasia ini rapat-rapat?
  2. Anda adalah bendahara panitia acara Pentas Seni Akhir Tahun di sekolah Anda. Setelah acara selesai, ketua panitia meminta Anda menggunakan dana yang tidak terpakai untuk acara pembubaran panitia dengan mengadakan pesta kecil-kecilan. Ketua panitia meminta Anda sebagai bendahara panitia, untuk membuat kwitansi palsu untuk membiayai acara tersebut karena dana tersebut tidak boleh digunakan untuk kegiatan semacam itu. Apa yang akan Anda lakukan?

Situasi yang manakah yang lebih menantang/sulit bagi Anda untuk mengambil keputusan?  Mengapa?

1. saya Melihat kasus Rayhan, saya sebagai guru harus menegakkan kedisiplinan dan kejujuran, karena tidak ingin mengajari murid untuk berbuat yang kurang baik yang tidak sesuai atauran yang ada di sekolah. Tindakan tersebut dapat saya lakukan dengan memanggil Rayhan, saya akan mempraktikkan teknik coaching model TIRTA, sehingga Rayhan dapat mengambil keputusan terbaik berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang ada. Keputusan terbaik akan diambil Rayhan dan kita mengikutinya, jika kita menyampaikan apa yang sebenarnya dengan pertimbangan dibaliknya, mudah-mudahan Kepala Sekolah juga dapat mengambil keputusan terbaik untuk semua pihak dengan solusi yang mudah diterima. 2. Sebuah kegiatan pasti melalui proses persiapan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Dalam rapat Persiapan dan perencanaan seharusnya dana yang terkumpul sudah kita tau akan dialokasikan kemana saja untuk kegiatan apa saja, untuk diajak untuk membuat kwitansi palsu saya tidak akan saya lakukan karena tidak sesuai aturan yang ada sebelumnya

Tugas 2.2

Setelah mempelajari perbedaan antara dilema etika dan bujukan moral, 

sekarang Anda diminta untuk membaca kembali kasus di sekolah Anda masing-masing yang telah Anda tulis di akhir pembelajaran Mulai dari Diri, kemudian buatlah analisis apakah itu termasuk dilema etika atau bujukan moral dan sebutkan alasannya.

Dilema etika karena saya diperhadapkan diposisi mengambil suatu kebijakan antara menaikkan kelas atau tidak karena murid saya itu kalau soal berhitung sudah pandai sekali tetapi kurang mampu dalam membaca, tetapi setiap keputusan yang saya ambil saya mengkomunikasikan ke teman dan kepala sekolah.

Empat Paradigma Dilema Etika

Dari pengalaman kita bekerja kita pada institusi pendidikan, kita telah mengetahui bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu.

Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup.

Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:

 

1.      Individu lawan masyarakat (individual vs community)

2.      Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3.      Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4.      Jangka pendek lawan  jangka panjang (short term vs long term)

Secara lebih rinci, berikut adalah penjelasan dari keempat paradigma tersebut:

Individu lawan masyarakat (individual vs community)

Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar.

“Individu” di dalam paradigma ini tidak selalu berarti “satu orang”. Ini juga dapat berarti kelompok kecil dalam hubungannya dengan kelompok yang lebih besar. Seperti juga “kelompok” dalam paradigma ini dapat berarti kelompok yang lebih besar lagi. Itu dapat berarti kelompok masyarakat kota yang sesungguhnya, tapi juga bisa berarti kelompok sekolah, sebuah kelompok keluarga, atau keluarga Anda.

Dilema individu melawan masyarakat adalah bagaimana membuat pilihan antara apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil , dan apa yang benar untuk yang lain, kelompok yang lebih besar. Guru kadang harus membuat pilihan seperti ini di dalam kelas. Bila satu kelompok membutuhkan waktu yang lebih banyak pada sebuah tugas, tapi kelompok yang lain sudah siap untuk ke pelajaran berikutnya, apakah pilihan benar yang harus dibuat? Guru mungkin menghadapi dilema individu lawan kelompok.

 

Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis  atau  tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu  sisi, dan  membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain.

Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuat pengecualian juga merupakan tindakan yang benar. Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan (atau sama rata). Pilihan untuk membengkokkan peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa kasihan (kebaikan) Misalnya ada peraturan di rumah Anda harus ada di rumah pada saat makan malam. Misalnya suatu hari Anda pulang ke rumah terlambat karena seorang teman membutuhkan bantuan Anda. Ini dapat menunjukkan dilema keadilan lawan rasa kasihan, terhadap orang tua Anda. Apakah ada konsekuensi dari melanggar peraturan tentang pulang ke rumah tepat waktu untuk makan malam, atau haruskah orang tua Anda membuat pengecualian?

 

Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung  nilai  kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.

Pada  jaman  perang,   tentara   yang   tertangkap   kadang   harus   memilih antara mengatakan yang sebenarnya kepada pihak musuh  atau  tetap  setia kepada teman tentara yang lain. Hampir dari kita semua pernah mengalami harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya atau melindungi teman (saudara) yang dalam masalah. Ini adalah salah satu contoh dari pilihan atas kebenaran melawan kesetiaan.

 

Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan sehari- hari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dll.

Orang tua kadang harus membuat pilihan ini. Contohnya: Mereka  harus  memilih antara seberapa banyak uang  untuk  digunakan  sekarang  dan  seberapa  banyak untuk ditabung nanti. Pernahkah Anda harus memilih antara bersenang-senang atau melatih  instrumen  musik  atau  berolahraga? Bila iya, Anda telah  membuat pilihan antara jangka pendek melawan jangka panjang.

 

Artikel disarikan dari Buku “How Good People Make Tough Choices: Resolving the Dilemmas

of Ethical Living, Rusworth M.Kidder, 1995, USA: HarperCollins Publishers


konsep pengambilan  dan pengujian keputusan

Untuk memandu kita dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil dalam situasi dilema etika ataupun bujukan moral yang membingungkan, ada 9 langkah yang dapat Anda lakukan. Anda dapat memilih salah satu dari kasus-kasus yang telah dibahas sebelumnya di modul ini untuk Anda gunakan sebagai contoh.


1.     Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

Mengapa langkah ini penting untuk Anda lakukan? Pertama, penting bagi kita untuk mengidentifikasi masalah yang sedang kita hadapi, alih-alih langsung mengambil keputusan tanpa menilainya dengan lebih saksama. Kedua, penting bagi kita untuk memastikan bahwa masalah yang kita hadapi memang betul-betul berhubungan dengan aspek moral, bukan sekedar masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial.

Tidak mudah untuk bisa mengenali hal ini. Kalau kita terlalu berlebihan, kita bisa terjebak dalam situasi seolah-olah kita terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita akan mempermasalahkan kesalahan-kesalahan kecil. Sebaliknya bila kita terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan tidak bisa mengenali aspek-aspek permasalahan etika dalam masalah yang sedang kita hadapi.. 

2.     Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

Bila kita telah mengenali bahwa ada masalah moral di situasi yang sedang kita hadapi, pertanyaannya adalah dilema siapakah ini? Bukan berarti kalau permasalahan tersebut bukan dilema kita, maka kita menjadi tidak peduli. Karena kalau permasalahan ini sudah menyangkut aspek moral, kita semua seharusnya merasa terpanggil.

3.     Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

Proses pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail; apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, apa yang akhirnya terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka mengatakannya. Data-data tersebut

penting karena dilema etika tidak bersifat teoritis, namun ada faktor-faktor pendorong dan penarik yang mempengaruhi situasi tersebut, sehingga data yang detail akan menjelaskan alasan seseorang melakukan sesuatu dan bisa juga mencerminkan kepribadian seseorang dalam situasi tersebut. Kita juga harus bisa menganalisis hal-hal apa saja yang potensial yang bisa terjadi di waktu yang akan datang.

4.     Pengujian benar atau salah

1.    Uji Legal

Pertanyaan penting di uji ini adalah apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi itu? Bila jawabannya adalah iya, maka situasi yang ada bukanlah antara benar lawan benar (dilema etika), namun antara benar lawan salah (bujukan moral). Keputusan yang harus diambil dalam situasi adalah pilihan antara mematuhi hukum atau tidak, dan keputusan ini bukan keputusan yang berhubungan dengan moral.

2.    Uji Regulasi/Standar Profesional

Bila situasi yang dihadapi adalah dilema etika, dan tidak ada aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mari kita uji, apakah ada pelanggaran peraturan atau kode etik di dalamnya. Konflik yang terjadi pada seorang wartawan yang harus melindungi sumber beritanya, seorang agen real estate yang tahu bahwa seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh koleganya? Anda tidak bisa dihukum karena melanggar kode etik profesi Anda, tapi Anda akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Anda.

3.    Uji Intuisi

Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Apakah tindakan ini mengandung hal-hal yang akan membuat Anda merasa dicurigai. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini. Walaupun mungkin Anda tidak bisa dengan jelas dan langsung menunjuk permasalahannya ada di mana. Langkah ini, untuk banyak orang, sangat umum dan bisa diandalkan untuk melihat

dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-sama benar.

4.    Uji Publikasi

Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan di media cetak maupun elektronik dan menjadi viral di media sosial. Sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi konsumsi publik? Coba Anda bayangkan bila hal itu terjadi. Bila Anda merasa tidak nyaman kemungkinan besar Anda sedang menghadapi benar situasi benar lawan salah atau bujukan moral.

5.    Uji Panutan/Idola

Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu Anda, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat berarti bagi Anda.

Yang perlu dicatat dari kelima uji keputusan tadi, ada tiga uji yang sejalan dengan prinsip pengambilan keputusan yaitu:

Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking) yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam.

Uji publikasi, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir.

Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care- Based Thinking), dimana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta Anda meletakkan diri Anda pada posisi orang lain.

Bila situasi dilema etika yang Anda hadapi, gagal di salah satu uji keputusan tersebut atau bahkan lebih dari satu, maka sebaiknya jangan mengambil resiko membuat keputusan yang membahayakan atau merugikan diri Anda karena situasi yang Anda hadapi bukanlah situasi moral dilema, namun bujukan moral.

5.     Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

Dari keempat paradigma berikut ini, paradigma mana yang terjadi di situasi yang sedang Anda hadapi ini?

-          Individu lawan masyarakat (individual vs community)

-          Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

-          Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

-          Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Pentingnya mengidentifikasi paradigma ini, bukan hanya mengelompokkan permasalahan, namun membawa penajaman bahwa situasi yang Anda hadapi betul- betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

6.     Melakukan Prinsip Resolusi

Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai?

Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

7.     Investigasi Opsi Trilema

Dalam mengambil keputusan, seringkali ada 2 pilihan yang bisa kita pilih. Terkadang kita perlu mencari opsi di luar dari 2 pilihan yang sudah ada. Kita bisa bertanya pada diri kita, apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah. Itulah yang dinamakan investigasi opsi trilema.

8.     Buat Keputusan

Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita harus membuat keputusan yang membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya.

9.     Lihat lagi keputusan dan Refleksikan

Ketika keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya.

Perlu kita ingat bahwa 9 langkah pengambilan keputusan ini adalah panduan, bukan sebuah metode yang kaku dalam penerapannya. Pengambilan keputusan ini juga merupakan keterampilan yang harus diasah agar semakin baik. Semakin sering kita berlatih menggunakannya, kita akan semakin terampil dalam pengambilan keputusan. Hal yang penting dalam pengambilan keputusan adalah sikap yang bertanggung jawab dan mendasarkan keputusan pada nilai-nilai kebajikan universal.


3.3.a.10 Aksi Nyata - Pengelolaan Program yang Berdampak Pada Murid

Tujuan Pembelajaran Khusus:   CGP dapat menjalankan rancangan program/kegiatan  yang dibuat di tahapan koneksi antarmateri C...